Pertengkaran kami sudah dimulai dari saat kami pacaran. Memang lebih banyak pertengkaran kecil. Namun pertengkaran kecil sudah mampu membuat hubungan kami putus nyambung.
Seingat kami 2 kali putus nyambung saat pacaran dulu.
Pacaran – berteman – pacaran – berteman – pacaran dan akhirnya menikah 4 tahun kemudian.
Karena itulah, lagu favorit yang sering saya nyanyikan saat pacaran dulu adalah lagu ‘Karena Kutahu Engkau Begitu (KKEB).’ Itu salah satu lagu rayuan terhebat yang pernah saya nyanyikan untuk pacar saya (yang kini menjadi istri saya). Dan salah satu lirik favorit saya dalam lagu KKEB mengatakan “Hingga ku pasti menunggu, selama apapun itu. Demi cinta yang kurasakan, yang hanyalah kepadamu,” Aku sendiri sekarang heran betapa romantisnya saya dulu (ha..ha..)
Namun sekarang kami bersyukur karena kami melalui semuanya itu.
Kami bersyukur dengan semua pertengkaran kecil kami saat pacaran dulu.
Karena kami bisa mengenal satu sama lain dengan lebih dekat.
Saya jadi tahu hal apa yang akan membuatnya gembira, dan hal apa yang menjengkelkannya.
Saya jadi tahu apa yang akan membuatnya gembira, dan apa yang akan membuatnya menitikkan air mata.
Dia pun begitu. Ia jadi tahu apa yang paling saya sukai dan hal apa yang akan membuat darah saya naik ke ubun-ubun.
Saya pun jadi tahu bagaimana kiat-kiat untuk meredakan kemarahannya.
Satu hal yang menjadi aturan kami kalo marahan adalah pertengkaran harus diselesaikan sebelum mata kami terpejam (alias tidur).
Kadang saya merayu dia untuk baikan. Namun kadang ia yang merayu saya. (Namun sepertinya saya yang lebih sering merayu dia untuk mengajak baikan.. ha..ha...)
Tak terasa sampai hari ini pernikahan kami menginjak usia 8 tahun lebih 10 bulan. WOW!
Dan masih saja terasa honeymoon.(Ha..ha....)
Pernikahan 2 insan manusia sungguh dituntut untuk bisa saling menerima satu sama lain. Menerima segala kelebihan dan kekurangan. (termasuk menerima kelebihan berat badan!)
Termasuk menerima kehendak pasangan kita bagi kita sendiri.
Bukan saja menerima pujian, namun juga masukan dan kritikan.
Bukan saja menerima penghiburan, namun juga keluh kesah pasangan kita.
Bukan saja memaksakan kemauan kita sendiri, namun juga melaksanakan tanggung jawab kita.
Bukan saja mau lebih mementingkan diri sendiri namun lebih mementingkan pasangan kita.
Kerendahan hati Bunda Maria telah memberi teladan bagi kita.
Bisa saja ia menolak kehendak Bapa baginya.
Bisa saja ia mengatakan “Apa kata dunia.. pilih saja orang lain. Aku kan masih muda.”
Atau bisa saja ia berkata “Tunggu 5 tahun lagi dech kalo aku sudah menikah dengan Yusuf.”
Syukur Maria tidak jadi menolak, namun menerima dengan rendah hati karena ia tahu Bapa memberikan rencana yang terbaik baginya.
Bunda Maria tidak memaksakan kehendaknya, namun ia mau menerima kehendak Bapa.
Bunda Maria tidak mementingkan dirinya sendiri namun ia lebih mementingkan keselamatan umat manusia.
Bunda Maria ajarkan kami untuk selalu rendah hati.
Rendah hati untuk menerima kelebihan dan kekurangan pasangan kami.
AMIN !
Pas banget nih, kemarin minggu leherku...
duuuh lucu amat yah, kalau masih kecil...
Gw Andre neh...maw nanya... sering gw ...
syalom.. ini kunjungan pertama. salam ...
I lovvve Sushi too!, and yes,I think S...