Written by yovie at Thursday, 06 October 2005 (161 hits)
Dalam iman Katolik anda akan menemukan jawaban-jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang paling sulit dalam
kehidupan ini: Mengapa saya ada di dunia? Siapa yang menciptakan saya? Apa yang harus saya percayai? Bagaimana saya
harus berperilaku? Semua pertanyaan ini dapat dijawab secara memuaskan, hanya jika anda mau membuka diri anda kepada
rahmat Tuhan, menerima Gereja yang Dia dirikan, dan mengikuti rencana-Nya bagi anda (Yohanes 7:17)
Tiang Api, Tiang Kebenaran
APAKAH anda Katolik atau bukan, mungkin anda punya beberapa pertanyaan tentang iman Katolik. Gereja Katolik
mengaku sebagai penginterpretasi dan pelindung ajaran-ajaran Yesus Kristus. Anda mungkin pernah mendengar
tantangan-tantangan terhadap klaim tersebut.
Tantangan-tantangan seperti itu mungkin datang dari evangelis Protestan yang bertanya, "Apakah anda sudah diselamatkan?",
atau dari lingkungan teman-teman yang mempengaruhi anda untuk mengabaikan ajaran-ajaran Gereja Katolik, atau dari kultur
sekuler yang mengatakan bahwa "Tuhan itu tidak ada."
Anda tidak dapat menanggapi tantangan-tantangan ini kecuali jika anda mengerti dasar-dasar iman Katolik. Artikel kecil ini
memperkenalkan anda kepada dasar-dasar iman Katolik.
Dalam iman Katolik anda akan menemukan jawaban-jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang paling sulit dalam
kehidupan ini: Mengapa saya ada di dunia? Siapa yang menciptakan saya? Apa yang harus saya percayai? Bagaimana saya
harus berperilaku? Semua pertanyaan ini dapat dijawab secara memuaskan, hanya jika anda mau membuka diri anda kepada
rahmat Tuhan, menerima Gereja yang Dia dirikan, dan mengikuti rencana-Nya bagi anda (Yohanes 7:17)
SEJARAH YANG TIDAK TERPUTUS
Yesus berkata bahwa Gereja-Nya akan menjadi "terang dunia." Dia kemudian berkata bahwa "sebuah kota yang terletak
diatas bukit tidak dapat disembunyikan" (Matius 5:14). Ini berarti Gereja-Nya adalah sebuah organisasi yang kelihatan.
Gereja-Nya harus memiliki ciri-ciri yang dengan jelas mengidentifikasi dan membedakannya dari gereja-gereja lainnya. Yesus
berjanji, "Aku akan mendirikan Gereja-Ku dan alam maut tidak akan dapat menguasainya." (Matius 16:18). Ini berarti bahwa
Gereja-Nya tidak akan pernah dihancurkan dan tidak akan pernah terpisah dariNya. Gereja-Nya akan bertahan sampai
Yesus datang kembali.
Diantara gereja-gereja Kristen, hanya Gereja Katolik yang sudah ada sejak Yesus masih hidup. Setiap gereja Kristen lainnya
adalah pecahan dari Gereja Katolik. Gereja-gereja Ortodoks memisahkan diri dari persatuan dengan Bapa Suci Sri Paus pada
tahun 1054. Gereja-gereja Protestan terbentuk selama periode Reformasi, yang dimulai tahun 1517. (Nyaris semua
gereja-gereja Protestan masa kini sesungguhnya adalah pecahan-pecahan dari pecahan-pecahan Protestan generasi yang
pertama.)
Hanya Gereja Katolik yang ada di abad ke sepuluh, abad ke lima, dan di abad pertama, dengan setia mengajarkan
doktrin-doktrin yang diberikan oleh Kristus sendiri kepada para Rasul, tanpa menghapuskan apapun. Para Paus dapat dilacak
balik, dalam suksesi yang tidak terputuskan, sampai kepada Santo Petrus sendiri. Tidak ada organisasi apapun dalam sejarah
yang dapat menyamainya.
Bahkan pemerintahan yang tertua sekarangpun masih amat muda dibandingkan dengan kepausan, dan gereja-gereja yang
mengirimkan misionaris dari rumah-ke-rumah masih sangat muda dibandingkan dengan Gereja Katolik. Umumnya
gereja-gereja ini baru didirikan pada abad ke sembilan belas atau abad ke dua puluh. Sebagian diantaranya bahkan baru
berdiri pada masa hidup anda. Tidak satupun yang dapat mengaku bahwa merekalah Gereja yang didirikan oleh Yesus.
Gereja Katolik sudah ada hampir selama 2000 tahun, meskipun terus menerus mendapat perlawanan dari dunia. Ini adalah
suatu kesaksian akan asal-muasal Gereja yang Ilahi. Pasti bukan cuma sekedar organisasi buatan manusia, terutama mengingat
bahwa para manusia-manusia anggotanya - bahkan beberapa para pemimpinnya - adalah orang-orang yang kurang bijaksana,
korup, atau bahkan cenderung memberontak.
Organisasi manapun buatan manusia dengan anggota-anggota semacam itu pasti sudah runtuh sejak awal mulanya. Gereja
Katolik masa kini adalah gereja yang paling berkembang di dunia (dan yang terbesar, dengan lebih dari 1 milyar umat:
seperenam dari penduduk dunia), dan ini juga adalah suatu kesaksian, bukan atas hasil kepintaran para pemimpin-pemimpin
Gereja, tetapi oleh karena perlindungan Roh Kudus.
EMPAT TANDA GEREJA SEJATI
Jika kita ingin menemukan Gereja yang didirikan oleh Yesus, kita perlu menemukan gereja yang memiliki empat tanda atau
kualitas utama dari Gereja-Nya. Gereja yang kita cari haruslah satu, kudus, katolik dan apostolik.
Gereja Adalah Satu (Roma 12:5, 1 Korintus 10:17, 12:13, Katekis Gereja Katolik 813–822)
Yesus hanya mendirikan satu Gereja, bukan kumpulan gereja-gereja yang berbeda-beda (Lutheran, Calvinis, Baptis, Anglikan
dan sebagainya). Alkitab mengatakan bahwa Gereja adalah mempelai Kristus (Efesus 5:23–32). Yesus hanya mempunyai satu
mempelai, dan mempelai-Nya adalah Gereja Katolik.
Gereja-Nya juga mengajarkan satu set doktrin, yang harus sama seperti yang diajarkan oleh para Rasul (Yudas 3). Ini adalah
kesatuan iman yang diminta oleh Kitab Suci terhadap kita (Filipi 1:27, 2:2).
Meskipun ada umat Katolik yang menyeleweng dari doktrin-doktrin yang diajarkan secara resmi, para guru-guru resmi Gereja
- Bapa Suci Sri Paus dan pada Uskup yang bersatu dengannya - tidak pernah mengganti doktrin apapun. Selama
berabad-abad, sebagaimana doktrin-doktrin diperiksa secara lebih menyeluruh, Gerejapun memahami lebih mendalam
(Yohanes 16:12-13), tetapi Gereja tidak pernah menginterpretasikan ajaran-ajaran tersebut secara bertolak belakang
dibandingkan arti yang telah dipahami sebelumnya.
Gereja Adalah Kudus (Efesus 5:25–27, Wahyu 19:7–8, Katekis Gereja Katolik 823–829)
Dengan rahmat-Nya Yesus membuat Gereja kudus, sama seperti diri-Nya sendiri kudus. Ini tidak berarti setiap anggota juga
selalu kudus. Yesus berkata bahwa ada umat yang baik dan buruk di dalam Gereja (Yohanes 6:70), dan tidak semua umat
akan masuk surga (Matius 7:21-23).
Tetapi Gereja itu sendiri adalah kudus karena Gereja adalah sumber kekudusan dan adalah pelindung rahmat-rahmat khusus
yang Yesus tentukan, yaitu sakramen-sakramen (Efesus 5:26).
Gereja Adalah Katolik (Matius 28:19–20, Wahyu 5:9–10, Katekis Gereja Katolik 830–856)
Gereja Yesus disebut katolik ("universal" dalam bahasa Yunani) karena merupakan karunia-Nya kepada segenap umat
manusia. Dia mengirimkan para Rasul-rasul-Nya untuk pergi ke segala penjuru dunia dan mengambil murid dari segala bangsa
(Matius 28:19–20).
Selama 2,000 tahun Gereja Katolik telah menjalankan misi ini, mewartakan kabar gembira bahwa Kristus telah wafat bagi
segenap umat manusia dan bahwa Ia menginginkan kita semua menjadi anggota keluarga-Nya yang universal (Galatia 3:28).
Pada masa kini Gereja Katolik dapat ditemukan di setiap negara-negara di dunia dan masih terus mengirimkan misionaris
untuk membaptis segala bangsa (Matius 28:19).
Gereja yang Yesus bangun sudah dikenal melalui sebutannya yang paling umum, "Gereja Katolik," setidaknya sejak tahun 107
Masehi, ketika Ignatius dari Antiokia (salah satu Church Fathers) menggunakan sebutan ini untuk menjelaskan satu Gereja
yang Yesus dirikan. Bahkan pada masa Ignatius sebutan itu sudah lama digunakan, yang berarti sebutan itu bahkan mungkin
sudah digunakan sejak masa hidup para Rasul.
Gereja Adalah Apostolik (Efesus 2:19–20, Katekis Gereja Katolik 857–865)
Gereja yang Yesus dirikan bersifat apostolik karena Dia menunjuk para Rasul (=apostolos) untuk menjadi
pemimpin-pemimpin Gereja yang pertama, dan para pengganti mereka sebagai pemimpin-pemimpin dimasa depan. Para Rasul
adalah uskup-uskup yang pertama, dan sejak abad pertama, ada urut-urutan uskup-uskup Katolik yang dengan setia
meneruskan apa yang diajarkan oleh para Rasul kepada umat Kristen pertama melalui Kitab Suci dan Tradisi Lisan (2
Timotius 2:2).
Ajaran-ajaran ini termasuk diantaranya kebangkitan badan oleh Yesus, Kehadiran Sejati oleh Yesus dalam Ekaristi, Misa
Kudus yang bersifat kurban persembahan, pengampunan dosa melalui seorang imam, regenerasi pembaptisan, keberadaan Api
Penyucian, peran khusus Maria, dan masih banyak lagi - bahkan termasuk doktrin suksesi kerasulan itu sendiri.
Tulisan-tulisan Kristen purba membuktikan bahwa orang-orang Kristen pertama adalah sepenuhnya Katolik dalam iman dan
prakteknya, dan mematuhi para penerus kedudukan Rasul-rasul sebagai pemimpin-pemimpin mereka. Apa yang dipercaya
oleh orang-orang Kristen ini masih dipercaya oleh Gereja Katolik. Tidak ada gereja lainnya yang dapat membuat pengakuan
serupa.
Tiang Api, Tiang Kebenaran
Kepintaran manusia tidak bertanggung jawab atas hal ini: Gereja tetap satu, kudus, katolik dan apostolik - bukan karena hasil
usaha manusia, tetapi karena Allah memelihara Gereja yang Ia dirikan (Matius 16:18, 28:20).
Dia menuntun kaum Israel pada waktu pelarian mereka dari perbudakan di Mesir dengan memberikan mereka sebuah tiang
api untuk menunjukkan jalan mereka melewati padang gurun (Keluaran 13:21). Kini Dia menuntun kita melalui Gereja Katolik.
Alkitab, Tradisi Suci, dan tulisan-tulisan Kristen purba bersaksi bahwa Gereja mengajarkan dengan kuasa Yesus. Pada jaman
dimana aliran-aliran denominasi Protestan yang tak terhitung banyaknya, masing-masing berusaha menarik perhatian, satu
suara muncul diatas semuanya: Gereja Katolik, yang disebut dalam Alkitab sebagai "tiang dan pondasi kebenaran" (1 Timotius
3:15).
Yesus meyakinkan para Rasul dan penerus-penerus mereka, para Paus dan para Uskup, "Barangsiapa mendengarkan kamu,
ia telah mendengarkan Aku, dan barangsiapa menolak kamu, ia telah menolak Aku" (Lukas 10:16). Yesus berjanji untuk
menuntun Gereja-Nya kepada segala kebenaran (Yohanes 16:12–13). Kita dapat yakin bahwa Gereja-Nya hanya
mengajarkan kebenaran semata-mata.
STRUKTUR GEREJA
Yesus memilih para Rasul sebagai pemimpin-pemimpin Gereja-Nya di dunia. Dia memberikan mereka kuasa-Nya sendiri
untuk mengajarkan dan mengatur - bukan sebagai diktator, tetapi sebagai pastor dan romo yang penuh kasih. Itulah sebabnya
umat Katolik memanggil para pemimpin spiritual mereka dengan sebutan "romo". Dengan melakukan demikian kita mengikuti
teladan Santo Paulus: "Aku menjadi bapamu dalam Yesus Kristus melalui Injil" (1 Korintus 4:15).
Para Rasul, memenuhi kehendak Yesus, mengangkat para uskup, imam, dan deakon dan mendelegasikan pelayanan kerasulan
kepada mereka - yang tertinggi kepada para uskup, setingkat dibawahnya kepada para imam dan deakon.
Sri Paus dan Para Uskup (Katekis Gereja Katolik 880–883)
Yesus memberikan Petrus kuasa khusus diantara para Rasul (Yohanes 21:15–17) dan menandai ini dengan mengganti
namanya dari Simon menjadi Petrus, yang berarti "batu karang" (Yohanes 1:42). Yesus berkata bahwa Petrus akan menjadi
batu karang diatas mana Dia akan mendirikan Gereja-Nya (Matius 16:18).
Dalam bahasa Aram, bahasa yang dipergunakan oleh Yesus, nama baru Simon adalah Kefas (yang berarti sebuah batu karang
besar). Selanjutnya nama ini diterjemahkan kedalam bahasa Yunani sebagai Petros (Yohanes 1:42) and dalam bahasa
Indonesia sebagai Petrus. Kristus memberikan hanya kepada Petrus saja, "kunci kerajaan surga" (Matius 16:19) dan
menjanjikan bahwa keputusan-keputusan yang dibuat Petrus akan mengikat di surga. Dia juga memberikan kuasa yang serupa
kepada para Rasul-rasul yang lainnya (Matius 18:18), tetapi hanya kepada Petrus saja diberikan kunci, lambang otoritas
Petrus untuk memerintah Gereja di dunia.
Kristus, sang Gembala Baik, memanggil Petrus untuk menjadi kepala gembala Gereja-Nya (Yohanes 21:15–17). Dia
memberikan Petrus tugas untuk memperkuat iman para Rasul-rasul lainnya, untuk memastikan bahwa mereka hanya
mengajarkan kebenaran (Lukas 22:31–32). Petrus memimpin Gereja dalam hal mewartakan Injil dan membuat
keputusan-keputusan (Kisah 2:1– 41, 15:7–12).
Tulisan-tulisan Kristen purba memberitahukan kita bahwa penerus-penerus Petrus, para uskup Roma (yang sejak awal telah
dipanggil dengan sebutan yang akrab "pope" (paus), yang berarti "papa"), terus melaksanakan tugas Petrus dalam Gereja.
Sri Paus adalah penerus Petrus sebagai uskup Roma. Uskup-uskup lainnya di dunia adalah penerus para Rasul secara
umumnya.
BAGAIMANA ALLAH BERBICARA KEPADA KITA
Sejak awal mula, Tuhan berbicara kepada Gereja-Nya melalui Alkitab dan melalui Tradisi Suci. Untuk memastikan bahwa kita
mengerti, Dia membimbing otoritas pengajar Gereja - yaitu Magisterium - untuk selalu menginterpretasikan Alkitab dan Tradisi
secara akurat. Ini adalah karunia infallibilitas.
Seperti sebuah kursi dengan tiga kaki, Alkitab, Tradisi dan Magisterium semuanya diperlukan demi stabilitas Gereja dan
menjamin doktrin-doktrin yang mendalam.
Tradisi Suci (Katekis Gereja Katolik 75–83)
Tradisi Suci jangan dibingungkan dengan tradisi manusia, yang lebih sering disebut adat istiadat. Yesus kadangkala mengutuk
tradisi manusia, tetapi hanya jika itu bertentangan dengan perintah-perintah Allah (Markus 7:8). Yesus tidak pernah mengutuk
Tradisi Suci, dan Dia bahkan tidak mengutuk setiap adat istiadat manusia.
Tradisi Suci dan Alkitab bukan nubuat-nubuat yang berbeda ataupun bersaing. Ini adalah dua cara Gereja mewartakan Injil.
Ajaran-ajaran Apostolik seperti Trinitas, pembaptisan bayi, infallibilitas Alkitab, api penyucian, dan Maria perawan abadi,
lebih jelas diajarkan melalui Tradisi, meskipun mereka juga secara tersirat ada di dalam Alkitab (dan tidak bertentangan
dengannya). Alkitab sendiri mengajarkan kita untuk berpegang teguh kepada Tradisi, apakah Tradisi itu dalam bentuk lisan
maupun tulisan.(2 Tesalonika 2:15, 1 Korintus 11:2).
Tradisi Suci jangan dibingungkan dengan devosi dan disiplin seperti doa Rosario, selibat bagi imam, dan berpantang daging
pada tiap hari Jumat pada masa pra-Paskah. Semua ini adalah hal-hal yang baik dan mendukung, tetapi mereka bukanlah
doktrin. Tradisi Suci memelihara doktrin-doktrin yang pertama-tama diajarkan oleh Yesus kepada para Rasul dan yang
seterusnya diturunkan kepada kita melalui penerus para Rasul, yaitu para uskup.
Kitab Suci (Katekis Gereja Katolik 101–141)
Kitab Suci, yaitu Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, diinspirasikan oleh Allah (2 Timotius 3:16). Roh Kudus membimbing
para pengarang alkitab untuk menulis apa yang Dia inginkan mereka untuk menuliskan. Karena Allah adalah pengarang yang
sesungguhnya dari Alkitab, dan karena Allah adalah kebenaran itu sendiri (Yohanes 14:6) dan tidak mungkin mengajarkan
apapun yang tidak benar, maka Alkitab bebas dari segala kesalahan dalam segala hal yang dinyatakan sebagai kebenaran.
Sebagian orang Kristen menyatakan, "Alkitab saja sudah cukup," tetapi pernyataan ini tidak diajarkan di dalam Alkitab itu
sendiri. Bahkan, Alkitab mengajarkan yang sebaliknya (2 Petrus 1:20–21, 3:15–16). Teori "Alkitab saja" (Sola Scriptura)
tidak dipercaya oleh siapapun di Gereja purba.
Teori itu baru, dan baru muncul hanya pada tahun 1500-an selama Reformasi Protestan. Teori itu yang mengajarkan bahwa
"tradisi manusia" menghapuskan Firman Allah, sesungguhnya telah merubah peran sejati Alkitab, dan mengabaikan otoritas
Gereja yang Yesus dirikan (Markus 7:1–8).
Meskipun populer di banyak gereja-gereja Kristen, teori Sola Scriptura tidak berjalan dalam prakteknya. Pengalaman historis
telah membuktikan. Setiap tahun timbul perpecahan-perpecahan baru diantara aliran-aliran Protestan yang "percaya hanya
kepada Alkitab saja" ini.
Pada masa kini ada lebih dari tiga puluh ribu denominasi Protestan yang saling bersaing, masing-masing mengaku bahwa
interpretasi Alkitabnya adalah yang benar. Hasil dari perpecahan-perpecahan ini telah menyebabkan banyak kebingungan
diantara berjuta-juta orang Kristen yang tulus hati dan sungguh-sungguh mencari Yesus.
Coba buka buku petunjuk telepon Yellow Pages atau koran dan lihat berapa banyak denominasi yang memasang iklan,
masing-masing mengaku hanya mendasarkan ajarannya "pada Alkitab saja," tetapi tidak ada dua diantaranya yang setuju sama
persis akan apa yang dimaksud oleh Alkitab.
Kita yakin akan satu hal: Roh Kudus pasti bukan penyebab kebingungan ini (1 Korintus 14:33). Allah tidak memimpin
umat-Nya kepada ajaran-ajaran yang bertolak-belakang karena kebenaran-Nya hanyalah satu. Kesimpulannya? Teori
"Sola-Scriptura" (hanya Alkitab saja) sudah pasti salah.
Magisterium (Katekis Gereja Katolik 85–87, 888–892)
Sri Paus bersama para uskup membentuk otoritas pengajar Gereja, yang disebut Magisterium (dari bahasa Latin yang berarti
"guru"). Magisterium, dibimbing dan dilindungi dari kesalahan oleh Roh Kudus, memberikan kita kepastian dalam hal doktrin.
Gereja adalah penjaga Alkitab dan dengan setia dan dengan akurat mewartakan pesan-pesannya, sebuah tugas yang telah
dikuasakan oleh Allah kepada Gereja.
Harap diingat bahwa Gereja malahan sudah ada sebelum Perjanjian Baru,
dan bukan sebaliknya. Beberapa anggota Gereja
yang diberi inspirasi Ilahi menuliskan kitab-kitab dalam Perjanjian
Baru, sama seperti penulis-penulis yang diberi inspirasi Ilahi
telah menulis Perjanjian Lama, dan Gereja dibimbing oleh Roh Kudus
untuk menjaga dan menginterpretasikan seluruh isi
Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.
Penginterpretasi resmi seperti itu jelas diperlukan jika kita ingin mengerti Alkitab secara benar. (Kita semua tahu
undang-undang dasar tetapi kita masih membutuhkan Mahkamah Agung untuk menginterpretasikan artinya.)
Magisterium adalah infallible ketika mengajar secara resmi karena Yesus menjanjikan untuk mengirimkan Roh Kudus untuk
membimbing para Rasul dan penerus-penerus mereka "kepada kebenaran yang menyeluruh" (Yohanes 16:12–13).
BAGAIMANA ALLAH MEMBERIKAN KARUNIA-KARUNIANYA
Yesus menjanjikan bahwa Dia tidak akan meninggalkan kita sendirian (Yohanes 14:18) tetapi akan mengirimkan Roh Kudus
untuk membimbing dan melindungi kita (Yohanes 15:26). Dia memberikan sakramen-sakramen untuk menyembuhkan,
memberi makan, dan menguatkan kita. Tujuh Sakramen - pembaptisan, Ekaristi, pertobatan (juga disebut rekonsiliasi atau
pengakuan dosa), penguatan, imamat, perkawinan, dan perminyakan (pengurapan orang sakit) - bukan hanya sekedar
simbol-simbol. Mereka adalah tanda-tanda yang sesungguhnya menyalurkan kasih dan rahmat karunia Allah.
Sakramen-sakramen didahului - dalam Perjanjian Lama - oleh hal-hal yang sesungguhnya tidak menyalurkan rahmat tetapi
sekedar melambangkan (bersunat misalnya, adalah pra-lambang pembabtisan, santapan Paskah adalah pra-lambang Ekaristi).
Ketika Kristus datang, Dia tidak menghapuskan simbol karunia Ilahi. Dia membuatnya supernatural, mengisi mereka dengan
rahmat karunia. Dia membuatnya lebih dari sekedar simbol.
Allah secara terus menerus menggunakan benda-benda untuk menyatakan kasih dan kuasa-Nya. Lagipula, benda tidak
bersifat jahat. Ketika Dia menciptakan alam raya, segala yang Allah ciptakan "sangat baik" (Kejadian 1:31). Dia bahkan
membuatnya kudus melalui Inkarnasi diri-Nya (Yohanes 1:14).
Selama pelayanan-Nya di bumi, Yesus menyembuhkan, memberi makan dan menguatkan orang-orang melalui unsur-unsur
yang sederhana seperti lumpur, air, roti, minyak dan anggur. Dia dapat saja melakukan mukjizat-mukjizatNya secara langsung,
tetapi Dia lebih menyukai menggunakan benda-benda untuk menyalurkan karuniaNya.
Pada mukjizatNya yang pertama didepan umum Yesus merubah air menjadi anggur, atas permintaan ibuNya, Maria (Yohanes
2:1-11). Dia menyembuhkan seorang yang buta dengan mengusapkan lumpur pada mata orang itu (Yohanes 9:1-7). Dia
melipat-gandakan beberapa potong roti dan ikan menjadi makanan untuk beribu-ribu orang (Yohanes 6:5-13). Dia merubah
roti dan anggur menjadi tubuh dan darahNya sendiri (Matius 26:26-28). Melalui sakramen-sakramen Dia masih terus
menyembuhkan, memberi makan, dan menguatkan kita.
Pembaptisan (Katekis Gereja Katolik 1213–1284)
Karena dosa asal, kita dilahirkan tanpa rahmat dalam jiwa kita, sehingga tiada jalan bagi kita untuk bersahabat dengan Allah.
Yesus menjadi manusia untuk membawa kita kedalam persekutuan dengan BapaNya. Dia berkata bahwa tak seorangpun
dapat memasuki kerajaan Allah sebelum orang itu dilahirkan kembali oleh "air dan Roh" (Yohanes 3:5) - ini merujuk pada
pembaptisan.
Melalui baptisan kita dilahirkan kembali, tetapi kali ini pada tingkat
spiritual dan bukan dari segi fisik. Kita dibasuh dalam air
kelahiran kembali (Titus 3:5). Kita dibaptis dalam kematian Yesus dan
oleh karenanya turut menikmati dalam
Kebangkitan-Nya (Roma 6:3-7).
Pembaptisan membersihkan kita dari dosa-dosa dan membawa Roh Kudus dan karuniaNya kedalam jiwa kita (Kisah 2:38,
22:16). Dan Rasul Petrus mungkin yang paling blak-blakan diantara semuanya: "Pembaptisan sekarang menyelamatkan kamu"
(1 Petrus 3:21). Pembaptisan adalah gerbang menuju Gereja.
Pertobatan atau Pengakuan Dosa atau Rekonsiliasi (Katekis Gereja Katolik 1422–1498)
Kadang-kadang dalam perjalanan kita menuju tanah perjanjian surgawi, kita tersandung dan jatuh kedalam dosa. Allah selalu
siap untuk mengangkat kita dan mengembalikan kita kepada hubungan yang dipenuhi rahmat denganNya. Dia melakukan ini
melalui sakramen tobat (yang juga dikenal sebagai sakramen pengakuan dosa atau rekonsiliasi).
Yesus memberikan para RasulNya kekuasaan dan otoritas untuk mendamaikan kita dengan Bapa. Mereka menerima kuasa
milik Yesus sendiri untuk menghapuskan dosa-dosa ketika Dia menghembuskan kepada mereka dan berkata, "Terimalah Roh
Kudus. Barangsiapa dosanya kamu ampuni maka dosanya akan diampuni dan barangsiapa dosanya kamu tahan maka
dosanya akan ditahan. (Yohanes 20:22–23).
Paulus menyatakan bahwa "semuanya ini dari Allah, yang telah mendamaikan kita dengan diriNya melalui Kristus dan yang
mempercayakan pelayanan perdamaian itu kepada kami....Jadi, kami ini adalah duta-duta Kristus, seolah-olah Tuhan
menasihati kamu melalui perantaraan kita" (2 Korintus 5:18–20). Melalui pengakuan dosa kepada seorang imam, pelayan
Tuhan, dosa-dosa kita dihapuskan, dan kita menerima rahmat untuk menolong kita menahan godaan-godaan dimasa
mendatang.
Ekaristi (Katekis Gereja Katolik 1322–1419)
Sesudah kita menjadi anggota keluarga Kristus, Dia tidak membiarkan kita kelaparan, tetapi memberi kita makan dengan
tubuh dan darah-Nya sendiri melalui Ekaristi. Dalam Perjanjian Baru, sewaktu mereka bersiap-siap untuk perjalanan mereka
di padang belantara, Allah memerintahkan umatNya untuk mengurbankan seekor anak domba dan memercikan darahnya di
pintu-pintu rumah mereka, sehingga Malaikat Kematian akan melewati rumah mereka. Lalu mereka menyantap domba itu
untuk memenuhi perjanjian mereka dengan Allah.
Anak domba ini melambangkan Yesus. Dialah "Anak Domba Allah" yang sejati, yang menghapuskan dosa-dosa dunia
(Yohanes 1:29). Melalui Yesus kita memasuki Perjanjian Baru dengan Allah (Lukas 22:20), yang melindungi kita dari kematian
kekal. Allah dalam Perjanjian Lama menyuruh orang-orang untuk menyantap anak domba Paskah. Sekarang kita harus makan
Anak Domba yang adalah Ekaristi. Yesus berkata, "Kecuali jika kamu makan tubuhKu dan minum darahKu kamu tidak
mempunyai hidup didalammu" (Yohanes 6:53).
Pada Perjamuan Terakhir Dia mengambil roti dan anggur dan berkata, "Ambillah dan makanlah. Inilah tubuhKu...Inilah
darahKu yang akan ditumpahkan bagimu" (Markus 14:22–24). Dengan ini Yesus menetapkan sakramen Ekaristi, santapan
kurban yang dimakan oleh umat Katolik pada setiap Misa.
Gereja Katolik mengajarkan bahwa pengurbanan Kristus pada kayu salib terjadi "sekali untuk semua"; tidak diulang (Ibrani
9:28). Kristus tidak "mati kembali" selama Misa, tetapi kurban yang persis sama seperti yang terjadi di Kalvari hadir di atas
altar. Inilah mengapa Misa bukanlah pengurbanan ulang, tetapi partisipasi dalam kurban yang sama, sekali untuk semua, oleh
Kristus diatas kayu salib.
Paulus mengingatkan kita bahwa roti dan anggur, dengan rahmat Allah, sungguh-sungguh menjadi tubuh dan darah Yesus:
"Karena barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Kristus, ia mendatangkan hukuman atas dirinya" (1 Korintus
11:27–29).
Setelah konsekrasi roti dan anggur, tiada lagi roti dan anggur di atas altar. Hanya Yesus sendiri, dalam rupa roti dan anggur
ada disana.
Penguatan (Katekis Gereja Katolik 1285–1321)
Allah menguatkan jiwa kita dalam cara lain, melalui sakramen penguatan. Meskipun murid-murid Yesus menerima rahmat
sebelum KebangkitanNya, pada hari raya Pantekosta Roh Kudus turun untuk menguatkan mereka dengan rahmat yang baru
untuk tugas-tugas yang sulit.
Mereka pergi dan memberitakan Injil tanpa rasa takut dan membawa misi yang telah diberikan oleh Yesus. Selanjutnya,
mereka menopangkan tangannya diatas orang-orang untuk menguatkan mereka juga. (Kisah 8:14–17). Melalui penguatan
andapun juga diperkuat untuk menghadapi tantangan-tantangan spiritual dalam hidup ini.
Perkawinan (Katekis Gereja Katolik 1601–1666)
Umumnya orang-orang dipanggil untuk kehidupan perkawinan. Melalui sakramen perkawinan Allah memberikan rahmat
khusus untuk menolong pasangan yang menikah dalam menghadapi kesulitan-kesulitan kehidupan, terutama untuk menolong
mereka membesarkan anak-anak mereka sebagai pengikut Kristus.
Perkawinan meliputi tiga pihak: mempelai pria, mempelai wanita, dan Tuhan. Ketika dua umat Kristen menerima sakramen
perkawinan, Tuhan ada bersama mereka, menyaksikan dan memberkati perjanjian perkawinan mereka. Sebuah sakramen
perkawinan bersifat permanen; hanya kematian dapat memisahkan (Markus 10:1–12, Roma 7:2–3, 1 Korintus 7:10–11).
Persekutuan kudus ini adalah simbol yang hidup atas hubungan yang tidak terpisahkan antara Kristus dan Gereja-Nya (Efesus
5:21–33).
Imamat (Katekis Gereja Katolik 1536–1600)
Umat lainnya dipanggil secara khusus untuk menjadi imam-imam Kristus. Dalam Perjanjian Lama, meskipun Israel adalah
kerajaan para imam (Keluaran 19:6), Allah memanggil orang-orang tertentu untuk pelayanan keimaman yang khusus (Keluaran
19:22). Dalam Perjanjian Baru, meskipun umat Kristen adalah kerajaan para imam (1 Petrus 2:9), Yesus memanggil
orang-orang tertentu untuk pelayanan keimaman yang khusus. (Roma 15:15–16).
Sakramen ini disebut imamat. Melalui sakramen in para imam diangkat dan diberi kuasa untuk melayani Gereja (2 Timotius
1:6–7) sebagai pastor, guru, dan bapa spiritual yang menyembuhkan, memberi makan dan menguatkan umat Allah - terutama
melalui khotbah dan pemberian sakramen-sakramen.
Perminyakan atau Pengurapan Orang Sakit (Katekis Gereja Katolik 1499–1532)
Imam merawat kita ketika kita sakit secara fisik. Mereka melakukan ini melalui sakramen yang dikenal sebagai perminyakan
atau pengurapan orang sakit. Alkitab menyuruh kita, "Apakah ada seorang diantara kamu yang menderita? Hendaknya ia
berdoa....Apakah ada seorang diantara kamu yang sakit? Hendaknya ia memanggil para imam Gereja, supaya mereka
mendoakan dia serta mengurapi dia dengan minyak dalam nama Tuhan, dan doa-doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan
orang sakit tersebut, dan Tuhan akan membangkitkannya. Jika dia telah berdosa, maka dosanya itu akan diampuni" (Yakobus
5:13–15). Pengurapan orang sakit tidak hanya menolong kita menanggung penyakit, tetapi juga membersihkan jiwa kita dan
menolong kita mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Tuhan.
BERBICARA DENGAN TUHAN DAN PARA KUDUSNYA
Salah satu aktivitas yang penting dari umat Katolik adalah berdoa. Tanpa doa tidak akan ada kehidupan spiritual. Melalui
doa-doa pribadi dan doa-doa bersama di Gereja, terutama pada saat Misa, kita menyembah dan memuliakan Allah, kita
menyatakan kesedihan kita atas dosa-dosa kita, dan kita memohon demi orang-orang lain (1 Timotius 2:1–4). Melalui doa kita
bertumbuh dalam hubungan kita dengan Kristus dan dengan para anggota keluarga Allah (Katekis Gereja Katolik
2663–2696).
Keluarga ini meliputi semua umat Gereja, apakah di bumi, di surga maupun di api penyucian. Karena Yesus hanya mempunyai
satu tubuh, dan karena kematian tidak dapat memisahkan kita dari Kristus (Roma 8:3–8), umat Kristen yang ada di surga atau
yang -sebelum memasuki surga- sedang dibersihkan di api penyucian oleh kasih Allah (1 Korintus 3:12–15) tetap menjadi
bagian dari Tubuh Kristus (Katekis Gereja Katolik 962).
Yesus berkata bahwa perintah yang terbesar kedua adalah untuk "mengasihi sesamamu seperti dirimu sendiri" (Matius 22:39).
Mereka yang telah berada di surga mengasihi kita jauh lebih besar daripada yang dapat mereka lakukan ketika masih hidup di
dunia. Mereka terus menerus berdoa bagi kita (Wahyu 5:8), dan doa-doa mereka ampuh (Yakobus 5:16, Katekis Gereja
Katolik 956, 2683, 2692).
Doa-doa yang kita panjatkan kepada para orang kudus di surga, untuk meminta mereka mendoakan kita, dan perantaraan
mereka kepada Allah Bapa tidak mengurangi peran Kristus sebagai Mediator tunggal (1 Timotius 2:5). Dengan meminta para
kudus di surga untuk berdoa bagi kita, kita menuruti petunjuk Paulus: "Aku menasihatkan: panjatkanlah permohonan, doa-doa
syafaat, dan puji syukur untuk setiap orang" karena "ini baik dan berkenan kepada Allah, Juruselamat kita" (1 Timotius 2:1–4).
Semua anggota Tubuh Kristus dipanggil untuk menolong satu sama lain melalui doa-doa (Katekis Gereja Katolik 2647).
Doa-doa Bunda Maria terutama amat efektif bagi kita karena hubunganNya yang khusus dengan PuteraNya (Yohanes
2:1-11).
Tuhan memberikan Maria peran yang khusus (Katekis Gereja Katolik 490–511, 963– 975). Dia menyelamatkan Maria dari
segala dosa (Lukas 1:28, 47), memberkatiNya secara khusus diantara segala wanita (Lukas 1:42), dan membuatnya sebagai
tokoh panutan bagi segenap umat Kristen (Lukas 1:48). Pada akhir hidup Maria, Tuhan mengangkat jiwa dan raga-Nya ke
surga - sebuah gambaran akan kebangkitan kita sendiri pada akhir dunia (Wahyu 12:1–2).
APAKAH TUJUAN HIDUP INI?
Jika anda ditanya, "Mengapa Tuhan
menciptakan kamu?" Jawabannya: "Tuhan menciptakan saya untuk
mengenalNya, untuk
mengasihiNya, dan untuk melayaniNya di dunia ini dan untuk berbahagia
selamanya denganNya setelah saya meninggalkan
dunia ini". Inilah, dalam satu kalimat saja, terjawab seluruh alasan
akan eksistensi kita di dunia. Yesus menjawab pertanyaan itu
bahkan lebih singkat lagi: "Aku datang supaya engkau memiliki hidup dan
mempunyainya lebih berlimpah lagi" (Yohanes
10:10).
Rencana Tuhan bagi anda sederhana saja. Bapa yang pengasih ingin memberikan kita segala hal-hal yang baik - terutama
kehidupan kekal. Yesus wafat di kayu salib untuk menyelamatkan kita dari segala dosa dan perpisahan kekal dengan Allah
yang disebabkan oleh dosa-dosa (Katekis Gereja Katolik 599–623). Ketika Dia menyelamatkan kita, Dia membuat kita
bagian dari TubuhNya, yaitu Gereja (1 Korintus 12:27–30). Dengan demikian kita menjadi satu denganNya dan dengan
semua umat Kristen dimana-mana (di dunia, di surga, di api penyucian).
Apa Yang Harus Anda Lakukan Untuk Diselamatkan?
Bagusnya, janji akan kehidupan kekal adalah karunia yang diberikan secara cuma-cuma oleh Allah (Katekis Gereja Katolik
1727). Pengampunan dan penghapusan dosa kita bukanlah "upah" yang kita dapatkan (Katekis Gereja Katolik 2010). Yesus
adalah mediator yang menjembatani jurang dosa yang memisahkan kita dari Allah (1 Timotius 2:5); Dia menjembataninya
dengan memberikan nyawaNya bagi kita. Dia telah membuat kita menjadi bagian dari rencana penyelamatan (1 Korintus 3:9).
Gereja Katolik mengajarkan apa yang diajarkan oleh para Rasul dan apa yang diajarkan oleh Alkitab: Kita diselamatkan oleh
rahmat, bukan semata-mata oleh iman (yaitu apa yang diajarkan oleh banyak denominasi Protestan; lihat Yakobus 2:24).
Ketika kita datang kepada Tuhan dan dibenarkan (yaitu, memasuki hubungan yang benar dengan Allah), tiada sesuatupun yang
mendahului pembenaran, apakah itu iman atau perbuatan baik, menghasilkan rahmat. Kemudian Tuhan menanamkan
cinta-kasihNya di dalam hati kita, dan kita harus menjalani iman kita dengan melakukan perbuatan-perbuatan baik (Galatia
6:2).
Meskipun hanya rahmat Allah yang memungkinkan kita mengasihi orang lain, perbuatan-perbuatan kasih ini menyenangkan
Tuhan dan Dia berjanji untuk menghadiahkan kehidupan kekal (Roma 2:6–7, Galatia 6:6–10). Oleh karena itu perbuatan baik
menghasilkan buah. Ketika kita pertama datang kepada Tuhan dengan iman, kita tidak memiliki sesuatupun untuk
dipersembahkan kepadaNya. Lalu Dia memberikan kita rahmat untuk mematuhi perintah-perintahNya yang penuh kasih, dan
Dia mengaruniakan kita dengan penyelamatan ketika kita mempersembahkan perbuatan-perbuatan baik ini kembali
kepadaNya (Roma 2:6–11, Galatia 6:6–10, Matius 25:34–40).
Yesus berkata bahwa tidak cukup hanya beriman kepadaNya, kita juga harus mematuhi perintah-perintahNya. "Mengapa
kamu memanggil Aku 'Tuhan, Tuhan' tetapi tidak melakukan apa yang Aku perintahkan?" (Lukas 6:46, Matius 7:21–23,
19:16–21).
Kita tidak mendapatkan penyelamatan kita melalui perbuatan baik (Efesus 2:8–9, Roma 9:16), tetapi iman kita kepada Kristus
menempatkan kita dalan sebuah hubungan yang dipenuhi rahmat dengan Allah sehingga kepatuhan dan kasih kita, ditambah
dengan iman kita, akan dikaruniai dengan kehidupan yang kekal (Roma 2:7, Galatia 6:8–9).
Paulus berkata, "Allah adalah Ia yang, dengan maksud baikNya, bekerja didalam kamu untuk berkeinginan dan bekerja: (Filipi
2:13). Yohanes menjelaskan bahwa "demi meyakinkan bahwa kita mengenalNya adalah dengan menjalankan
perintah-perintahNya. Barangsiapa berkata, 'Aku mengenalNya,' tetapi tidak melakukan perintah-perintahNya adalah seorang
pendusta, dan kebenaran tidak ada padanya" (1 Yohanes 2:3–4, 3:19–24, 5:3–4).
Karena tidak ada karunia yang dipaksakan kepada penerimanya - karunia selalu dapat ditolak - bahkan setelah kita
dibenarkan, kita dapat menggagalkan karunia penyelamatan. Kita menggagalkannya melalui dosa berat (yang membawa maut)
(Yohanes 15:5–6, Roma 11:22–23, 1 Korintus 15:1–2; Katekis Gereja Katolik 1854–1863). Paul berkata, "Upah dosa ialah
maut" (Roma 6:23).
Bacalah surat-surat Paulus dan lihat betapa seringnya Paulus memperingati umat Kristen akan dosa! Dia tidak akan terdorong
untuk menuliskan demikian jika dosa-dosa mereka tidak membuat mereka gagal masuk ke surga (lihat contohnya, 1 Korintus
6:9–10, Galatia 5:19–21).
Paulus mengingatkan umat Kristen di Roma bahwa Allah "akan membayar setiap orang sesuai dengan perbuatannya:
kehidupan kekal kepada mereka yang mencari kemuliaan, kehormatan dan kehidupan kekal dengan bertekun dalam
perbuatan-perbuatan baik, tetapi murka dan geram bagi mereka yang melanggar kebenaran dan menuruti kejahatan" (Roma
2:6–8).
Dosa tidak lain adalah perbuatan-perbuatan jahat (Katekis Gereja Katolik 1849–1850). Kita dapat menghindari dosa-dosa
dengan terus menerus berbuat baik. Setiap orang kudus tahu bahwa cara terbaik untuk tetap bebas dari dosa adalah dengan
berdoa secara teratur, menerima sakramen (terutama Ekaristi), dan beramal.
Apakah Anda Pasti Masuk Surga?
Ada sementara orang yang mempromosikan ide yang sangat menarik: Semua orang Kristen, tanpa peduli bagaimana mereka
menjalani hidupnya, punya jaminan absolut akan keselamatan, hanya dengan menerima Yesus dalam hati mereka sebagai
"Tuhan dan Penyelamat mereka." Masalahnya adalah kepercayaan ini bertentangan dengan Alkitab dan ajaran Kristiani yang
sejati.
Ingatlah bahwa Paulus memberitahukan kepada orang-orang Kristen pada jamannya: "Jika kita mati denganNya [dalam
pembaptisan; lihat Roma 6:3-4] kita juga akan hidup denganNya; jika kita bertekun maka kita juga akan memerintah
bersamaNya" (2 Timotius 2:11–12).
Ini berarti, jika kita tidak bertekun, maka kita tidak akan memerintah bersamaNya. Dengan kata lain, orang Kristen bisa
gagal masuk surga (Katekis Gereja Katolik 1861).
Alkitab mengatakan dengan tegas bahwa umat Kristen punya jaminan moral akan penyelamatan (Allah akan memenuhi
firmanNya dan akan memberikan keselamatan kepada mereka yang memiliki iman kepada Kristus dan patuh kepadaNya [1
Yohanes 3:19–24]), tetapi Alkitab tidak mengajarkan bahwa umat Kristen dijamin masuk ke surga. Tidak ada jaminan absolut
akan penyelamatan. Dalam tulisan kepada umat Kristen, Paulus berkata, "Lihatlah, kemurahan dan kemurkaan Allah:
kemurkaan kepada mereka yang jatuh, tetapi kemurahan Allah kepada kamu, yaitu jika kamu tetap berada dalam
kemurahanNya, jika tidak kamu juga akan dibuang" (Roma 11:22–23; Matius 18:21–35, 1 Korintus 15:1–2, 2 Petrus
2:20–21).
Perhatikan bahwa Paulus menyertakan syarat yang penting: "jika kamu tetap berada dalam kemurahanNya." Dia mengatakan
bahwa umat Kristen dapat kehilangan penyelamatan dengan membuangnya. Dia memperingatkan, "Barangsiapa berpikir dia
berdiri tegak hendaknya berusaha agar ia tidak jatuh" (1 Korintus 10:11–12).
Jika anda seorang Katolik dan seseorang bertanya apakah anda telah diselamatkan, anda harus menjawab, "Saya sudah
ditebus oleh darah Kristus, saya percaya kepadaNya saja untuk penyelamatan saya, dan, seperti yang tertulis dalam Alkitab,
Saya 'berusaha memelihara penyelamatan saya dalam rasa takut dan gentar' (Filipi. 2:12), dengan menyadari bahwa itu adalah
karunia Allah yang bekerja di dalam diri saya."
GELOMBANG MASA DEPAN
Semua alternatif atas iman Katolik menunjukkan kekurangannya: sekularisme di sekeliling kita yang tidak memuaskan hati
orang-orang, sekte-sekte aneh yang menawarkan persinggahan sementara, bahkan macam-macam aliran Kristen lainnya.
Sebagaimana dunia kita yang lelah ini bahkan menjadi lebih putus asa, orang-orang berpaling kepada satu alternatif yang tidak
pernah mereka pikirkan sebelumnya: Gereja Katolik. Mereka akhirnya menuju kebenaran di tempat yang tidak pernah mereka
pikirkan sebelumnya.
Tidak Pernah Populer, Selalu Menarik
Bagaimana mungkin? Mengapa begitu banyak orang mempertimbangkan Gereja Katolik untuk pertama kalinya? Ada sesuatu
yang menarik mereka. Sesuatu itu adalah kebenaran.
Kita tahu sejauh ini: Mereka tidak mempertimbangkan klaim Gereja Katolik karena alasan supaya populer. Katolik tidak
pernah populer, setidaknya pada masa kini. Anda tidak akan menang kontes popularitas dengan menjadi seorang umat Katolik
yang taat. Dunia kita yang mendekati kejatuhannya ini menghargai mereka yang cerdik, dan bukan mereka yang berkelakuan
baik. Jika ada seorang Katolik dipuji, itu karena kepintaran-kepintaran duniawinya, bukan karena kebajikan Kristiani yang
dimilikinya.
Meskipun orang-orang mencoba menghindari doktrin dan kebenaran moral yang berat yang diajarkan oleh Gereja Katolik
(karena kebenaran sejati menuntut perubahan gaya hidup), mereka tetap tertarik kepada Gereja. Ketika mereka
mendengarkan ucapan-ucapan Sri Paus ataupun para uskup yang bersatu dengannya, mereka mendengarkan kata-kata yang
menggemakan kebenaran - bahkan meskipun kebenaran itu sulit untuk dijalani.
Ketika mereka merenungkan sejarah Gereja Katolik dan kehidupan para orang kudusnya, mereka menyadari bahwa pasti ada
sesuatu yang khusus, mungkin sifatnya supernatural, tentang sebuah institusi yang dapat menghasilkan orang-orang suci seperti
Santo Agustinus, Santo Thomas Aquinas, dan Ibu Teresa. Ada ribuan orang kudus lainnya!
Ketika mereka meninggalkan jalan raya yang bising dan memasuki gereja Katolik, mereka tidak merasakan kekosongan,
tetapi kehadiran. Mereka merasakan bahwa Seseorang tinggal didalamnya, menunggu untuk menghibur mereka.
Mereka menyadari bahwa perlawanan yang terus menerus yang dihadapi oleh Gereja Katolik - apakah itu dari orang-orang
yang tidak percaya ataupun dari Kristen non-Katolik atau bahkan dari orang-orang yang menyebut dirinya Katolik - adalah
suatu tanda asal muasal Gereja yang Ilahi (Yohanes 15:18–21). Dan mereka berpikir bahwa Gereja Katolik, diantara
semuanya, adalah gelombang masa depan.
KeKristenan Yang Tidak Lengkap Tidaklah Cukup
Beberapa dekade terakhir banyak orang Katolik yang meninggalkan gereja, banyak diantaranya bahkan meninggalkan
kehidupan rohani sama sekali, sisanya bergabung dengan gereja-gereja lainnya. Tetapi perpindahan ini tidak cuma satu arah
saja.
Perpindahkan kepada Roma telah meningkat dengan pesat. Pada masa kini kita melihat lebih dari seratus lima puluh ribu umat
yang memasuki Gereja Katolik setiap tahunnya di Amerika Serikat saja, dan di tempat-tempat lain seperti di benua Afrika,
lebih dari satu juta orang menjadi Katolik setiap tahunnya. Orang-orang yang tidak beragama, orang Katolik yang
meninggalkan gereja, dan anggota-anggota gereja Kristen lainnya "pulang ke rumah" ke Roma.
Mereka tertarik kepada Gereja Katolik karena berbagai alasan yang berbeda, tetapi alasan utama mereka berpindah agama
semestinya menjadi alasan utama anda menjadi Katolik: Kebenaran yang Utuh dari iman Katolik.
Para saudara-saudara kita yang terpisah memiliki banyak kebenaran Kristiani, tetapi tidak semuanya. Kita mungkin bisa
membandingkan denominasi mereka dengan analogi kaca mosaik, dimana beberapa bilah kaca tersebut telah hilang dan
digantikan oleh kaca hitam pekat: Sesuatu yang tadinya ada pada awalnya sekarang sudah hilang, dan sesuatu yang tidak
cocok telah dimasukan untuk mengisi kekosongan yang ada. Persatuan dan keharmonisan kaca aslinya telah dinodai.
Ketika, berabad-abad yang lalu, mereka memisahkan diri dari Gereja Katolik, para teolog pendahulu orang-orang Kristen ini
telah menghapuskan sebagian kepercayaan Kristen yang otentik dan bahkan menambahkan beberapa hasil karya pemikiran
mereka sendiri. Bentuk ke-Kristenan yang mereka dirikan sungguh adalah keKristenan yang tidak lengkap.
Hanya Gereja Katolik yang didirikan oleh Yesus, dan hanya Gereja Katolik yang dapat memelihara segenap kebenaran
Kristiani tanpa suatu kesalahanpun - dan sejumlah besar orang-orang mulai menyadarinya.
TUGAS ANDA SEBAGAI UMAT KATOLIK
Tugas anda sebagai seorang umat Katolik, terlepas dari umur anda, ada tiga:
Ketahuilah iman Katolik anda. Anda tidak dapat mempraktekan iman Katolik anda jika anda tidak mengetahuinya, dan
anda tidak dapat membagi dengan orang-orang lain, apa yang tidak anda miliki (Katekis Gereja Katolik 429). Untuk
mempelajari iman Katolik, anda perlu berdaya-upaya, tetapi usaha anda ini tidak akan sia-sia karena pelajaran ini akan
menghasilkan buah yang terus-menerus.
Praktekanlah iman Katolik anda. Iman Katolik anda adalah sesuatu hal untuk umum, yaitu tidak dibuat supaya "ditinggal di
rumah" waktu anda pergi keluar rumah (Katekis Gereja Katolik 2472). Untuk diketahui: Mempraktekan iman anda juga
membawa resiko. Anda dapat kehilangan teman. Anda bisa dianggap "orang luar". Tetapi, sebagai penghiburan, ingatlah akan
kata-kata Yesus kepada mereka yang tertindas: "Bersukacitalah dan bergembiralah, karenah upahmu besar di surga" (Matius
5:12).
Sebarkanlah iman Katolik anda. Yesus Kristus menginginkan kita membawa seluruh dunia kepada kebenaran, dan
kebenaran itu adalah Yesus sendiri, yang adalah "Jalan, Kebenaran, dan Hidup" (Yohanes 14:6). Menyebarkan iman bukan
hanya tugas para uskup, romo dan suster - tetapi ini adalah tugas bagi setiap umat Katolik (Katekis Gereja Katolik 905).
Tepat sebelum naik ke surga, Yesus memberi tahu kepada para rasulnya, "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa
murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu
yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman" (Matius
28:19–20).
Jika kita ingin melakukan segala apa yang Yesus perintahkan, jika kita ingin mempercayai segala apa yang Ia ajarkan, kita
harus mengikuti-Nya melalui Gereja-Nya. Ini adalah suatu tantangan besar dan juga suatu kesempatan istimewa bagi kita.
Revisi Edisi Kedua
Hak Cipta © 1996 oleh Catholic Answers.
Hak cipta dilindungi undang-undang
diterjemahkan oleh : Jeffry Komala
Only registered users can write comments. Please login or register. Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.3
If you liked this article, you can consider to buy me a food for our kidsmfBeer Joomla! Plugin
|