Written by yovie at Thursday, 08 January 2009 (2045 hits)
Bacaan I : 1 Yoh 5:5-13
Injil : Luk 5:12-16
Barangsiapa percaya kepada Anak Allah, ia mempunyai kesaksian itu di dalam dirinya.Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal
kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya. (1Yoh 5:10a,11)
Rasanya semua terjadi dengan tiba-tiba.
Kami sekeluarga yang sedang jongkok memperhatikan air di tepi-tepi karang, tiba-tiba dihempaskan ombak.
“Tuhan Yesus,” teriak saya dalam kepanikan. Saya yang sedang memegang
kamera, tiba-tiba terjatuh dan terhempas ke belakang terdorong ombak.
Usai diterjang ombak, dalam kepanikan saya melihat istri saya sudah
terjatuh dan Vina seluruh tubuh dan mukanya terendam air semua. Namun
Yonathan tidak ada dalam pandangan saya.
”Yonathan dimana,” tanya saya pada istri saya.
Ternyata Yonathan ada di belakang kami sambil memegang tangannya yang berdarah.
Dalam kepanikan saya pun mencoba untuk sadar apa yang baru saja terjadi.
Ombak di Tanah Lot – Bali 7 Januari 2009 telah menghempaskan kami sekeluarga.
Saya, Nathasa dan kedua anak kami Yonathan dan Vina....
Awal cerita.
7 Januari 2009, hari dimana kami rekreasi bersama seluruh karyawan Warung Nasi HOT . Hari itu kami sengaja menutup warung nasi HOT untuk mengajak karyawan kami untuk rekreasi bersama. Perjalanan pk. 9.30 pagi dimulai dari lokasi wisata Taman Ayun – Mengwi dilanjutkan ke Alas Kedaton dan terakhir di Tanah Lot.
Kami pergi bersama seluruh karyawan, mamanya Nathasa, adik ipar dan kedua anaknya berserta kami sekeluarga. Berangkat dengan 2 mobil.
Awalnya biasa saja saat kami tiba di Tanah Lot. Saya selalu mengingatkan kedua anak kami dan keponakan kami untuk hati-hati berjalan di Tanah Lot karena licin. Memang tidak begitu licin, karena permukaan batuan yang kasar. Namun saya khawatir kalau mereka terjatuh dan terluka karena begitu banyak lubang dan karang.
Dari awal Yonathan ingin mencari kepiting disana. Saya juga udah memberitahu bahwa Tanah Lot tidak seperti pantai yang lain yang ada kepiting kecil yang bisa ditangkap. Eh, ternyata ada beberapa tamu Taiwan yang berada di agak pinggir kanan setelah kami turun tangga masuk ke Tanah Lot yang menemukan kepiting. Lalu saya pun bersama Yonathan melihat juga disana dan ternyata ada kepiting kecil yang lagi jalan. Saya berhasil menangkapnya dan lalu dimasukkan ke botol yang telah dibawa Yonathan. Istri saya, Nathasa dan Vina putri kami pun ikutan mendekat. “Pa, nggak ada pasirnya ya biar bisa dimasukkan ke botol,” pinta Yonathan. Saya pun jongkok dan berusaha mencari pasir atau bebatuan kecil untuk dimasukkan ke botol. Yonathan, Vina dan Nathasa juga ikutan jongkok melihat jernihnya air di antara karang.
Mulanya air ombak hanya datang dan setinggi jari kaki. Mungkin kami terlalu asyik melihat ke bawah, kami tak tahu tiba-tiba ada ombak setinggi paha kaki datang. Kami pun terhempas ke belakang. Kamera yang sedang ON berusaha saya angkat ke atas, namun badan saya tak mampu untuk menahannya. Saya pun terjatuh dan ombak itu menenggelamkan kamera saya dan menyeret badan saya ke belakang. Dalam kepanikan saya berusaha untuk bangun dan saya mencari istri dan anak kami. Saya lalu melihat istri saya dan Vina juga sedang dalam posisi terjatuh. Namun Yonathan tidak ada dalam pandangan saya.
”Yonathan dimana,” tanya saya pada istri saya.
Ternyata Yonathan ada di belakang kami sambil memegang tangannya yang berdarah.
Dalam kepanikan saya pun mencoba untuk sadar apa yang baru saja terjadi.
Ombak di Tanah Lot – Bali telah menghempaskan kami sekeluarga.
Saya, Nathasa dan kedua anak kami Yonathan dan Vina.....
Tim penolong pantai pada berdatangan dan rasanya semua orang memandangi kami berempat. Rasanya belum sadar betul, akan apa yang terjadi, saya bertanya dan melihat Vina “Vina nggak pa pa Ma? Nggak ada kepalanya yang terbentur?” tanya saya pada Nathasa.
“Yonathan nggak apa-apa? Kepala Yoyo kena nggak?” tanya saya pada Yonathan.
Vina lalu diangkat oleh salah seorang tim penolong pantai. Vina hanya lecet kecil di kakinya. Saat saya berdiri, saya baru menyadari kaki saya berdarah semua, kaki kiri dan kanan, lecet akibat karang. Kuku kaki jempol kiri juga ‘bocel’ sedikit. Tangan Yonathan dan Nathasa juga berdarah.
“Kameramu nggak apa-apa?” tanya Nathasa pada saya. “Kamera saya basah Ma, nggak pa pa dech yang penting anak-anak selamat,” kata saya (dalam hati saya mikir oh kameraku... Nikon D200 dan lensanya Nikon 18-200 kerendam air....)
Lalu kami pun dibawa ke atas dan luka kami pun lalu dibersihkan dan diberi obat dan perban. Perih rasanya ketika luka-luka kami dibersihkan. Lucunya tingkat keparahan luka kami sepertinya Tuhan tahu yang terbaik. Tingkat keparahan kami dari urutan terkecil Vina, Yonathan lalu Nathasa dan saya terakhir yang terparah.
Kejadian diatas sampai sekarang kami nggak bisa percaya mengapa bisa terjadi.
Rasanya kami bisa merasakan ‘sedikit’ apa yang dialami oleh mereka yang mengalami tsunami.
Ada banyak kata ‘seharusnya’ yang rasanya ingin kami ucapkan.
Seharusnya kami nggak ketepi pantai itu ...
Seharusnya saya nggak membawa kamera itu kesana...
Seharusnya kami nggak mencari kepiting disana ....
Seharusnya saya nggak mengajak anak-anak kesana ...
Dan “seharusnya” yang lain ....
Namun ada ribuan kata ‘syukur’ yang rasanya ingin kami ucapkan.
Syukur anak-anak kami selamat ...
Syukur kepala mereka tidak terbentur....
Syukur kami tidak mengalami keadaan yang lebih parah lagi...
Syukur kami hanya terseret beberapa meter...
Syukur karyawan dan mama kami tidak mengalami hal yang sama...
Syukur hanya kamera saya yang rusak (dan sekarang lagi di opname di tempat service)
Syukur saya yang paling parah dan bukan anak-anak kami...
Syukur karena kami boleh mengalami penyertaan Tuhan sebagai satu keluarga...
Syukur saat ini saya bisa merasakan betapa susahnya untuk menekuk kaki karena perih...
Syukur karena saya bisa merasakan susahnya (maaf) buang air besar dengan luka di kaki...
Syukur karena saya masih bernafas hingga hari ini ...
Syukur karena kami masih hidup hingga hari ini....
Dan ’syukur-syukur’ lainnya yang tak terucapkan.....
Kejadian ini sungguh membuat kami bersyukur walau apapun yang terjadi
(bahkan ombak yang menerjang sekalipun), Tuhan Yesus tetap setia.
Ia tetap setia bahkan saat kita terjatuh sekalipun (kali ini benar-benar terjatuh)
Ia tetap setia bahkan dalam keadaan terburuk sekalipun.
Ia tetap setia dalam segala badai kehidupan yang kita alami.
Sungguh rekreasi kemaren membawa semangat baru untuk lebih setia lagi pada Yesus...
Rasanya sekarang juga saya ingin menyanyikan lagu ”Tuhan Yesus Setia”
Tuhan Yesus setia
Dia sahabat kita
Dalam s’gala susahku
Dia selalu menghiburku
Dia mengerti bahasa
Tetesan air mata
Waktu badai mengamuk
Dan gelombang menerjang ...
Tuhan Yesus setia
(yovie)
If you liked this article, you can consider to buy me a food for our kidsmfBeer Joomla! Plugin
|
duuuh lucu amat yah, kalau masih kecil...
Gw Andre neh...maw nanya... sering gw ...
syalom.. ini kunjungan pertama. salam ...
I lovvve Sushi too!, and yes,I think S...
Wah, dah lama ga buka website yovisasa...