Senin, 26 Januari 2009 : Pacar kedua dan yang terakhir
Written by nathasa at Monday, 26 January 2009 (446 hits) Mrk 3 : 22-30
Dan jika suatu rumah tangga terpecah-pecah, rumah tangga itu tidak dapat bertahan.
(Mrk 3:25)
Selama masa remaja sampai akhirnya menikah, saya hanya pernah berpacaran dua kali. Pacar yang pertama yang pasti bukan Yovie.
Yovie adalah pacar yang kedua dan terakhir, karena setelah 4 tahun berpacaran kami menikah. Karena sewaktu pacaran saya memasuki masa belajar sebagai dokter muda, maka waktu bertemu tidak terlalu banyak.
Masing-masing dari kami mempunyai sebuah buku, yang kami isi setiap
hari dan kami tukarkan kalau bertemu. Jadi walaupun tidak ketemu kami
tahu, kegiatan masing-masing.
Didalam buku itu saya pernah menulis, sebagai pasangan kita harus
sama-sama saling mendukung. Kalau kita tidak saling mendukung ibarat
meja, kakinya empat. Dua kaki milik saya, dua kaki milik kamu. Kalau
salah satu kaki patah, maka semua yang ada diatas meja akan jatuh.
Sedikit gopel (retak) maka meja itu akan mudah bergoyang-goyang, tidak
seimbang.
Dasar berdirinya meja itupun harus sama, kalau salah satu sisi kaki
meja ada di atas lantai keramik. Sedangkan sisi yang lain diatas tanah
liat, walaupun keempat kaki meja itu sempurna, akan sulit untuk berdiri
dengan baik.
Pacar saya yang pertama berasal dari Gereja Kristen non Katholik. Dia
pernah bilang pada saya, prinsip kita beda. Kita ini seperti di
pertigaan jalan. Kamu ambil jalan kekanan saya ambil jalan kekiri.
Waktu dia bilang begitu, saya sih tidak terlalu mempermasalahkan, ya
namanya juga lagi happy punya pacar. He he he
Sekarang saya bersyukur untuk rencana Tuhan yang indah. Karena dia
merasa tidak bisa sejalan dia putusin saya setelah 2,5 tahun pacaran.
Puji Tuhan waktu itu juga masa-masa pertama saya mengenal Tuhan lewat
persekutuan doa. Jadi tidak terlalu patah hati.
Untuk mencari pasangan hidup banyak hal yang harus dipertimbangkan dan
yang paling penting adalah dasar atau pondasi yang dimiliki sebisa
mungkin sama. Yaitu iman kepercayaan kita kepada Tuhan Yesus. Saya
tidak bilang bahwa pernikahan beda agama tidak akan langgeng tapi
memerlukan usaha yang lebih untuk menjaga kesatuan rumah tangga. Saya
juga tidak bilang dengan iman kepercayaan yang sama maka pernikahan
dijamin pasti langgeng. Tapi yang penting kita punya satu hal yang
selalu menyatukan kita dan sama-sama kita yakini, yaitu Yesus.
Selama kita meletakkan Yesus sebagai dasar hidup keluarga kita, dan
kita pun menjaga supaya tidak ada keretakan dalam keluarga. Percayalah
Yesus akan menjaga kaki-kaki meja kita tetap utuh dan seimbang.
Yoh 15:12-17
Inilah perintahKu kepadamu: "Kasihilah seorang akan yang lain." (Yoh 15:17)
"Kamu ini emang anak yang bodoh, udah dikasih tahu nggak ngerti-ngerti juga, emang otakmu kurang ya." Saya pernah mendengar seorang ibu mengungkapkan hal tersebut didepan anaknya. Ada juga yang berkata begini, "emang anak ga tahu diri, bikin malu orang tua aja kerjanya". Begitu banyak ungkapan-ungkapan negatif yang mungkin tidak disadari orang tua kepada anaknya. Dan ini akan masuk telinga, pikiran dan hati si anak, dihayatinya dan akhirnya si anak mencap dirinya sendir [ ... ]
Pas banget nih, kemarin minggu leherku...
duuuh lucu amat yah, kalau masih kecil...
Gw Andre neh...maw nanya... sering gw ...
syalom.. ini kunjungan pertama. salam ...
I lovvve Sushi too!, and yes,I think S...