Written by Yovie - Nathasa at Sunday, 09 October 2005 (428 hits) Rosario adalah doa yang penuh kuasa untuk perdamaian, untuk
keluarga, serta untuk merenungkan peristiwa-peristiwa dalam hidup
Yesus, demikian kata Paus Yohanes Paulus II dalam surat apostolik yang
baru diterbitkannya.
"Rosario adalah doa yang penuh kuasa
bagi perdamaian"
oleh: Cindy Wooden
Catholic News Service, 16 Oktober 2002
VATIKAN
CITY (CNS) -- Rosario adalah doa yang penuh kuasa untuk perdamaian,
untuk keluarga, serta untuk merenungkan peristiwa-peristiwa dalam hidup
Yesus, demikian kata Paus Yohanes Paulus II dalam surat apostolik yang
baru diterbitkannya. Sementara memuji mereka
yang dengan setia berdoa rosario dengan merenungkan peristiwa-peristiwa
seperti yang biasa dipakai selama ini, paus juga menganjurkan tambahan
lima “peristiwa cahaya” - yaitu masa perutusan Yesus di hadapan orang banyak - untuk lebih menekankan fokus rosario pada Kristus. Paus
Yohanes Paulus II menandai peringatan 24 tahun pelantikannya sebagai
paus pada tanggal 16 Oktober dengan menandatangani surat apostolik “Rosarium Virginis Mariae” (“Rosario Santa Perawan Maria”), pada saat mengadakan audiensi umum mingguan. Bapa Suci memaklumkan Tahun Rosario hingga bulan Oktober mendatang, serta meminta setiap orang untuk berdoa rosario dengan lebih sering, dengan penuh cinta dan dengan pemahaman bahwa doa rosario akan mempersatukan mereka dengan Bunda Maria serta menghantar mereka kepada Yesus. Kelima peristiwa baru yang dianjurkan Bapa Suci adalah: Yesus Dibaptis di Sungai Yordan Yesus Menyatakan Diri-Nya dalam perjamuan nikah di Kana Yesus Mewartakan Kerajaan Allah serta Menyerukan Pertobatan Yesus Dipermuliakan Yesus Menetapkan Ekaristi Paus
Yohanes Paulus II juga mengungkapkan cintanya yang istimewa akan
doa-doa Maria dan menyampaikan saran-saran bagaimana umat beriman dapat
berdoa rosario dengan lebih baik. “Rosario
telah menyertai saya di saat-saat suka dan di saat-saat duka,”
tulisnya. “Dalam rosario saya selalu menemukan penghiburan.” Hanya
selang dua minggu setelah pengangkatannya sebagai Bapa Suci pada tahun
1978, ia mengatakan, “Sejujurnya saya mengakui: Rosario adalah doa
favorit saya.” Dan, katanya, “mengenang kembali segala kesulitan yang juga menjadi bagian dari pelaksanaan
tugas perutusan saya, saya merasa perlu untuk menyampaikan sekali
lagi, sebagai suatu undangan yang hangat kepada siapa saja untuk
mengalami secara pribadi bahwa: Rosario sungguh `meningkatkan irama
hidup manusia', dan menjadikannya selaras dengan `irama' hidup Tuhan
sendiri.” Bapa Suci meminta bantuan setiap orang untuk menanggapi “krisis rosario”
yang ditandai dengan kelalaian mengajarkannya kepada anak-anak serta
keragu-raguan -yang didukung oleh beberapa teolog- bahwa rosario itu
kuno, takhyul atau pun anti-ekumene. Terutama
setelah “serangan yang mengerikan” tanggal 11 September 2001, paus
mengatakan: menggairahkan kembali doa rosario merupakan sumbangan umat
Katolik yang amat berharga bagi perwujudan perdamaian dunia. Paus
Yohanes Paulus II mengatakan bahwa rosario memberi “rasa damai bagi
mereka yang mendoakannya,” membimbing mereka untuk memandang wajah
Kristus dalam diri sesama, untuk peka terhadap kesedihan serta
penderitaan sesama, serta membangkitkan kerinduan untuk menjadikan
dunia “lebih indah, lebih adil, lebih selaras dengan rencana Tuhan.” “Sekarang
ini, saya hendak mempercayakan diri kepada kuasa doa rosario …. sebagai
sumber damai di dunia dan sumber damai dalam keluarga,” tulisnya. Rosario, kata paus, adalah dan akan selalu merupakan doa dari dan bagi keluarga. Mendaraskan
doa rosario bersama-sama dalam keluarga akan mempersatukan mereka
dengan Keluarga Kudus, membawa harapan-harapan serta
persoalan-persoalan mereka kepada Tuhan, serta memusatkan perhatian
mereka kepada gambaran kehidupan Kristus, dan bukannya gambar televisi,
katanya. Berbicara tentang praktek doa rosario, Paus Yohanes Paulus II mengatakan bahwa rosario mengulang-ulang doa yang sama dengan tujuan merenungkan serta memusatkan pikiran, dan bukannya mendatangkan kejenuhan. Pertama-tama, katanya, biji-biji rosario janganlah dipandang sebagai “barang jimat,” tetapi sebagai sarana untuk melambangkan “perenungan serta usaha terus-menerus untuk mencapai kesempurnaan Kristiani.” Biji-biji
rosario juga dapat “mengigatkan kita akan begitu banyaknya persahabatan
dan ikatan persatuan serta persaudaraan yang mempersatukan kita dengan
Kristus.” Peristiwa-peristiwa rosario,
meskipun bukan pengganti bacaan Kitab Suci, haruslah menghantar pikiran
kita kepada Kristus dan kepada peristiwa-peristiwa lain dalam
hidup-Nya, demikian kata paus. Sebagian orang mungkin akan merasa
tertolong dengan gambar atau ikon Kitab Suci dari peristiwa yang sedang
direnungkan, atau setidak-tidaknya, dengan menggambarkan peristiwa
-peristiwa tersebut dalam pikiran mereka. Paus
Yohanes Paulus II juga menganjurkan agar umat membaca ayat Kitab Suci
yang berhubungan dengan peristiwa yang direnungkan, bukan sebagai
sarana untuk mengingat kembali informasi yang ada, “tetapi untuk mengijinkan Tuhan berbicara.” Seringkali terjadi, pada waktu berdoa rosario, kata paus, umat beriman lupa bahwa bagian penting dari suatu doa kontemplasi adalah keheningan;
karenanya baik pada waktu mendaraskan doa rosario secara pribadi atau
pun bersama-sama dalam suatu kelompok, dianjurkan untuk berhenti
sejenak dalam keheningan setelah suatu ayat dibacakan. Sementara
sepuluh Salam Maria dalam suatu peristiwa merupakan “elemen paling
penting” dalam rosario, paus meminta umat beriman untuk lebih
memperhatikan pendarasan doa Bapa Kami dan Kemuliaan, doa-doa yang
menghantar umat kepada Allah Bapa dan kepada Allah Tritunggal. Bapa
Suci menganjurkan bahwa jika rosario didaraskan dalam suatu kelompok,
Kemuliaan sebaiknya dinyanyikan “sebagai suatu cara untuk memberikan
penekanan yang pantas kepada Tritunggal Mahakudus yang amat penting
dalam semua doa Kristiani.” Paus Yohanes
Paulus II juga meminta umat beriman untuk sekali-kali berhenti serta
memandang salib yang tergantung pada rosario mereka. “Hidup
dan doa umat beriman berpusat pada Kristus,” tulisnya. Sama seperti
Rosario, “segala sesuatu berasal dari Dia, segala sesuatu menghantar
kita kepada Dia, segala sesuatu, melalui Dia, dalam persatuan dengan
Roh Kudus, menuju kepada Bapa.” Rosario itu
doa yang fleksibel, katanya. Ujud-ujud doa khusus dapat diucapkan pada
akhir setiap peristiwa; sebagian dapat dinyanyikan; sebagai penutup,
berbagai kelompok yang berbeda dalam usia, budaya serta etnis dapat
memilih doa atau lagu-lagu Maria yang sesuai. Terutama
ketika berusaha menghidupkan doa rosario bagi anak-anak, beberapa
penyesuaian juga diperkenankan, katanya: “Mengapa tidak mencobanya?” sumber : "Rosary is powerful prayer for peace, pope says in apostolic letter" by Cindy Wooden Catholic News Service; Copyright (c) 2002 Catholic News Service/U.S. Conference of Catholic Bishops; www.catholicnews.com “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Catholic News Service”
If you liked this article, you can consider to buy me a food for our kidsmfBeer Joomla! Plugin
|
duuuh lucu amat yah, kalau masih kecil...
Gw Andre neh...maw nanya... sering gw ...
syalom.. ini kunjungan pertama. salam ...
I lovvve Sushi too!, and yes,I think S...
Wah, dah lama ga buka website yovisasa...