Written by Yovie - Nathasa at Sunday, 09 October 2005 (123 hits)
Tanya Jawab seputar Devosi Maria
Devosi kepada orang kudus, apakah kita menyembah santo / santa? Gereja
membedakan antara penyembahan (Latria) yang hanya dibaktikan kepada
Allah saja dan penghormatan (Dulia) yang dihaturkan kepada orang-orang
kudus. Devosi kepada orang-orang kudus termasuk penghormatan dan bukan
penyembahan. Devosi kepada orang kudus, adakah dasar biblisnya? Orang kudus sama seperti kita. Hanya saja, dalam perjuangan iman mereka telah setia dan mencapai kemenangan. “Aku
telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir
dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota
kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil,
pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua
orang yang merindukan kedatangan-Nya.” (II Tim 4:7-8). Kini, para kudus telah ada bersama Allah di surga: “Karena
sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian
pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan
Kristus. Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai buah
sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu
kedatangan-Nya.” (1 Kor 15:22-23) Para
kudus telah mencapai kemenangan dalam perjuangan iman dan sekarang
mereka telah bersama Allah di surga. Kita yakin bahwa doa-doa mereka
lebih didengarkan karena mereka telah menikmati hubungan akrab mesra
dengan Tuhan. Bantuan dan dukungan doa mereka bagi kita tentulah sangat
berguna. Jadi, kita mohon mereka untuk menjadi pendoa bagi kita. Apakah peristiwa Rosario yang direnungkan pada hari-hari tertentu harus sesuai dengan yang telah ditetapkan? Pada
umumnya, Peristiwa Gembira kita renungkan pada hari Senin dan Sabtu,
Peristiwa Cahaya pada hari Kamis, Peristiwa Sedih pada hari Selasa dan
Jumat, dan Peristiwa Mulia pada hari Rabu dan Minggu. Tetapi, hal
tersebut ditetapkan hanya sebagai pedoman umum. Artinya, peristiwa yang
direnungkan tidak baku; kita bebas memilih peristiwa mana yang hendak
kita renungkan atau kita anggap cocok untuk situasi tertentu. Misalnya
saja, pada Masa Paskah kita cenderung merenungkan Peristiwa Mulia dan
bukan Peristiwa Sedih. Contoh lain, pada saat seorang anggota keluarga
meninggal, kita tidak akan merenungkan peristiwa gembira meskipun hari
itu hari Senin, misalnya.  B erdoa Rosario tanpa menggunakan untaian Rosario, dapatkah dibenarkan? Tidak
masalah. Untaian Rosario merupakan sarana yang membantu kita dalam
mendaraskan doa Rosario. Apabila tidak ada manik-manik Rosario, kita
dapat menggunakan jari-jari kita untuk menghitung sepuluh Salam Maria.
Adalah jauh lebih baik berdoa Rosario tanpa menggunakan untaian
Rosario, daripada sama sekali tidak berdoa Rosario . Pelantunan atau bahkan tertidur pada waktu berdoa Rosario, bagaimana mengatasinya? Hal
yang paling penting adalah niat dan usaha. Apabila pikiran kita
menerawang atau bahkan kita tertidur saat berdoa Rosario, jangan
berputus asa dan marah pada diri sendiri. Sebaliknya, bawa semua
pelantunan dan kelemahanmu itu dalam doa. Kadang-kadang Rosario digunakan sebagai kalung, ditempatkan dalam mobil, dll. Benarkah penggunaan seperti itu? Tidak
salah. Rosario sudah diberkati, jadi kehadirannya membantu meyakinkan
pemakai/pemilik bahwa ia tidak berjalan sendiri melainkan bersama-Nya. Berdoa Rosario selama perayaan Misa, dapatkah dibenarkan? Ekaristi
Kudus adalah doa yang paling agung dan tinggi tingkatnya; semua umat
beriman diharapkan ambil bagian di dalamnya secara khidmat dan khusuk.
Kiranya perhatian kita hanya tertuju pada perayaan Ekaristi Kudus saja.
Tetapi, Romo menambahkan bahwa dalam kalangan generasi tua memang ada
kebiasaan seperti itu, mengingat pada masa lalu Ekaristi dipersembahkan
dalam bahasa Latin yang tidak dipahami umat, sehingga mereka mengisinya
dengan berdoa rosario. Sekali
waktu Gereja Katolik masih merayakan Misa dengan lagu-lagu berbahasa
Latin. Apa perlunya jika kita tidak mengerti artinya? Gereja
terdiri dari umat yang majemuk. Generasi tua rindu menikmati perayaan
Misa dalam bahasa Latin. Menurut mereka bahasa Latin itu indah, agung,
sakral serta membangkitkan nuansa religius. Sebaliknya, generasi muda
lebih menyukai perayaan Misa dalam bahasa Indonesia karena bahasanya
kita mengerti dan kita pahami. Mengingat kemajemukan dalam umat itulah,
gereja mengambil kebijaksanaan untuk tidak menyeragamkan, malahan
mengganggap segala bentuk inkulturasi sebagai kekayaan gereja. Jika
iman kita belum cukup kuat, sebaiknya tidak menempatkan patung-patung
kudus di rumah karena dapat menjadi tempat tinggal roh halus. Benarkah? Sama
seperti kita menempatkan foto orang-orang yang kita kasihi di dompet,
di meja, dinding, dll, kita menempatkan patung kudus di rumah sebagai
sarana bagi kita untuk menghidupkan kembali kenangan akan tokoh-tokoh
yang kita cintai. Patung dan barang-barang kudus dimintakan berkat imam
agar kehadirannya sungguh menjadi sarana rahmat dan berkat. Lebih
lanjut, Romo Remi menegaskan bahwa bukan hanya patung, tetapi setan
dapat menggunakan apa saja untuk menggoda manusia. Kita tidak perlu
takut patung kudus yang kita tempatkan di rumah menjadi tempat tinggal
setan; justru kita harus takut apabila penghuni rumahlah yang menjadi
tempat tinggal setan. Artinya, kelakuannya bukannya membawa cinta kasih
dan perdamaian, melainkan kekacauan dan perpecahan dalam keluarga.
“dikutip dari YESAYA: www.indocell.net/yesaya”
Only registered users can write comments. Please login or register. Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.3
If you liked this article, you can consider to buy me a food for our kidsmfBeer Joomla! Plugin
|