Written by yovie at Monday, 10 October 2005 (1044 hits) Terimakasih Tuhan buat nafas kehidupan di pagi hari ini tgl 11 oktober 2005 Pagi ini jam 7 dan aku sedang bersiap siap untuk melanjutkan pembuatan website sebuah perusahaan. Ketika aku berada di depan komputer, aku jadi teringat akan masa tahun 80-an, mungkin tahun 1985 keatas ketika aku kelas SMP dan pertama kali mengenal komputer. Saat itu rasanya sudah senang betul ketika bisa mengetik tombol di keyboard dan apa yang kita ketik bisa kelihatan pada monitor.
Symphony merupakan program favoritku saat itu. Tidak seperti sekarang dimana kita bisa memasukkan gambar pada sebuah file atau bisa berkreasi dengan huruf-huruf, software saat itu benar-benar sederhana sekali kalau dibandingkan dengan software yang saat ini bisa WYSIWYG (what you see is what you get). Lambat laun saat itu komputer pun mengalami masa expired dan ketika tahun 90-an komputer bisa dibilang mengalami kemajuan pesat. Aku masih ingat ketika masih jaman Pentium I dan sepertinya baru saja memiliki komputer dengan spesifikasi tersebut, eh tahu-tahunya udah keluar yang Pentium II. Rasanya komputer saat itu cepet benget expirednya. Sepertinya ketinggalan jaman terus. Sekarang seri komputer yang aku pake Pentium IV 2,41 Ghz dan ini pun rasanya udah rada expired karena udah keluar seri diatas seri yang aku miliki. Ngomong-ngomong mengenai expirednya komputer yang rasanya cepat sekali, aku jadi teringat 'expired'nya manusia. Seperti pagi ini aku dikejutkan dengan berita kematian SUAMI dari Ibu Maria Phang. Meninggalnya baru tadi pagi dan mendadak. Ibu Maria Phang yang udah tinggal di Bali beberapa tahun, aku udah kenal selama hampir 3 tahun dan Ibu Maria Phang merupakan ibunda dari Rm. Benny Phang, Ocarm. Ibu Maria Phang rasanya hampir setiap pagi selalu datang misa pagi dan beliau juga aktif mengikuti persekutuan doa. Aku sendiri tidak seberapa kenal dengan suami Ibu Phang, namun aku juga bisa merasakan kehilangan. Kematian seseorang kadang sering mengingatkanku betapa hidup ini singkat dan kita nggak tahu kapan 'expired'nya seseorang. Baru saja aku dikejutkan dengan kematian Edwin Sindu dalam peristiwa BOM II, seseorang yang aku kenal tahun 97-98 semasa dia mengikuti persekutuan doa muda-i Algonz dan hari ini kembali berita meninggalnya seseorang. Seandainya manusia tahu kapan 'expired'nya tentu kita akan bisa mempersiapkan segala sesuatunya. Seperti seseorang yang akan pergi untuk berlibur, sehari sebelumnya pastilah ia akan mempersiapkan barang apa yang akan dibawa dan mungkin ia akan meninggalkan pesan-pesan bagi orang yang akan menjaga rumahnya. Tapi nyatanya, kita 'pergi berlibur' (expired) tidak tahu kapan tanggal pastinya, jam berapa. Semuanya itu kadang terasa tiba-tiba. Semuanya yang bisa kita lakukan hanyalah mempersiapkan segala sesuatunya mulai sekarang semasa kita hidup. Mempersiapkan dengan memperbaiki hubungan kita dengan Tuhan merupakan salah satunya. Dan memperbaiki hubungan dengan sesama juga tak kalah pentingnya. Aku jadi teringat akan pesan Yesus "Berjaga-jagalah karena kamu tidak tahu kapan waktunya akan tiba". Salam Maria penuh rahmat, terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu Yesus Santa Maria Bunda Allah doakanlah kami yang berdosa ini sekarang dan WAKTU KAMI MATI, Amin
|
- Please keep the topic of messages relevant to the subject of the article.
- Personal verbal attacks will be deleted.
- Please don't use comments to plug your web site. Such material will be removed.
- Just ensure to *Refresh* your browser for a new security code to be displayed prior to clicking on the 'Send' button.
- Keep in mind that the above process only applies if you simply entered the wrong security code.
|
Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.3
If you liked this article, you can consider to buy me a food for our kidsmfBeer Joomla! Plugin
|