Login Form

Login
No account yet? Register
 
Home arrow BLOG ! arrow Home Schooling? B'rani Mencoba ...?

Latest Comments

Sarapan Pagi

Random Daily Bread!

Senin 9 Maret 2009 : Hari gini murah hati ??
09/03/2009 | yovie

(Setelah beberapa hari ‘retret pribadi’ nggak nulis renungan, tibalah saatnya kembali turun gunung)  Bacaan Injil :  Luk 6:36-38
Luk 6:36 Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati." Ah lagi-lagi orang itu datang. Minta-minta lagi...
Bukan cuman satu orang itu aja.
Tapi teman yang berikutnya pasti datang lagi.
Ada yang membawa anaknya yang masih bayi. Ada juga anak kecil  yang datang bersama kakaknya (atau temannya) yang masih kecil juga.
Tak jarang yang datang yang sudah nenek-nenek. Kadang sebel juga kita dibuatnya.

 [ ... ]


Who's Online

Hits Counter

Visitors: 459439
Home Schooling? B'rani Mencoba ...? PDF Print E-mail
Written by Yovie - Nathasa at Sunday, 28 October 2007 (4332 hits)

"Anak kalian sekolah dimana ?" tanya saya pada sebuah keluarga di Australia 2 tahun lalu. Saat itu saya dan istri sedang mengikuti sebuah kegiatan komunitas Katolik di Canberra- Australia. . "Oh mereka sekolah di rumah (home schooling),"kata orangtuanya.

Dalam hati saya heran bercampur bingung. Kalau sekolah di rumah, bagaimana dengan gurunya, bagaimana dengan pelajarannya, apakah orantua harus tahu segalanya biar bisa ngajari anaknya, apakah karena mereka nggak mampu membiayai anaknya sampai harus sekolah di rumah, dan banyak pertanyaan lain yang terlintas di benakku. Istriku juga saat itu heran dengan konsep home schooling.

Rupanya kembali saya mendengar konsep home school dari kakak ipar kami 2 hari lalu. Saya mencoba mencari di internet dan setelah saya baca sepertinya konsep ini menarik juga.  Klik read more untuk membaca beberapa artikel mengenai home schooling.

Home Schooling? Siapa takut.... ! 

 

 


 


Rumahku Sekolahku, Ortuku Guruku


HomeSchool Erwin-Tatat (GATRA/Ivan N. Patmadiwiria)MENCARI Helen Ongko di kantor pagi hari? Jangan harap Anda bisa menemuinya. Maklum, pemilik Konsultan Hukum Sidharta & Partners berusia 46 tahun itu jarang ngantor pagi hari. Beberapa tahun terakhir, Helen baru masuk kerja selepas makan siang. Pagi hari, ia menekuni pekerjaan ''sambilan'' di rumah. Dari pukul tujuh hingga pukul 12, ia mengajar sendiri tiga anaknya, Joseph, Joshua, dan John Ongko.

Selepas diajar sang ibu, ketiga anak itu mengikuti berbagai les minat. Mulai musik, balet, hingga berenang. Sore harinya, sekitar pukul 17.00, giliran Gregory Ongko, sang suami, yang mengajar sepulang kerja. Gregory mengulang materi pelajaran yang sudah disampaikan istrinya, membantu mengerjakan PR, dan mengawasi riset internet yang dilakukan anak-anaknya. Lho, kapan anak-anak itu pergi sekolah? Masak sekolah di rumah?

Memang keluarga Ongko memilih mengajar sendiri. Mereka enggan memasukkan anak-anaknya ke sekolah. Alasannya, kata Helen, di sekolah umum, orangtua tak pernah tahu rencana belajar dan target pencapaian yang diajarkan. Orangtua hanya tahu sang anak tak mampu mengikuti pelajaran, dan beban itu berpindah ke orangtua. "Ya, membantu mengerjakan PR sampai memanggil guru les," ujarnya.

Hasilnya, tambah Helen, orangtua hanya bisa mengeluh. Berbagai pelajaran diterima, tetapi sepertinya anak-anak tidak mendapat apa-apa. Apalagi, efek pelajaran etika di sekolah tidak lagi terlihat. Kembali lagi orangtua yang harus membimbing.

Helen lalu berpikir, jika banyak hal penting dibebankan pada orangtua, kenapa tak sekalian mengajar ilmu akademis. "Toh, semuanya kami juga yang repot, kan?" katanya.

Pemikiran itu mulai muncul ketika kegiatan belajar berhenti selama seminggu akibat kerusuhan Mei 1998. Saban hari, ketiga anaknya hanya menonton televisi. Setelah bangun tidur, mereka menonton TV, mandi, makan, tidur lagi, dan seterusnya. "Kalau begini terus, kasihan anak-anak," pikirnya.

Sempat terlintas dalam pikiran Helen untuk menyekolahkan anaknya ke luar negeri. Tapi ia belum sampai hati membiarkan buah hatinya yang masih belia sendirian di negeri orang. Untuk menyertainya hidup di sana, dia merasa sayang meninggalkan usaha yang baru dirintis.

Tapi Helen tetap merasa pendidikan anak itu menjadi tanggung jawabnya sebagai orangtua. Dia lalu teringat pengalamannya ketika bersekolah di Amerika. Ketika itu, banyak orangtua di sana memilih mengajar sendiri anaknya di rumah.

Mulailah pencarian Helen tentang homeschool. Dia melakukan riset di internet dan bertanya pada beberapa teman yang telah melakukan model ini. Homeschool atau sekolah di rumah merupakan sebuah pembelajaran yang menitikberatkan pada pemanfaatan potensi anak didik dengan pengawasan langsung dari orangtua.

Pencarian Helen berbuah keyakinan untuk menerapkan konsep itu ketika melihat anak-anak produk homeschool yang berbeda dari anak-anak lainnya. Dari cara bertutur dan berpikir, anak itu menjadi lebih mandiri dan terarah. "Anak-anak itu seperti tahu kenapa dia belajar, kapan harus belajar," tutur Helen.

Anak-anak itu juga lebih punya keahlian. Selain kemampuan berbahasa Inggris, anak-anak itu pun memiliki keahlian khusus berdasarkan minat dan bakat mereka. "Semuanya serba kompromi. Itulah rahasianya," kata Helen.

Dengan konsep homeschool ini, kurikulum disesuaikan dengan keinginan. Yang terpenting, pelajaran akademik dasar yang ada di tiap level tetap diajarkan. Pengembangan berikutnya disesuaikan dengan minat sang anak. Misalnya, kalau seorang anak jago matematika, dia diberi materi tambahan. "Dasar akademis harus ada, tetapi harus memacu kemampuan dia yang lain," Helen menambahkan.

Model sekolah di rumah ini juga diterapkan keluarga Erwin dan Tatat Badudu. Pada akhir 2002, mereka menarik Nasya Vaisaradya dan Ranya Vaicitra dari SMP Dian Harapan Karawaci. Erwin dan Tatat merasa interaksi dengan dua anak gadisnya itu sangat sedikit. "Paling banter hanya di mobil, ketika mengantar dan menjemput mereka sekolah," katanya.

Meski satu rumah, mereka tersekat oleh kesibukan masing-masing. Alhasil, muncul kesenjangan di antara mereka. Kedua putrinya itu tidak lagi merasa dekat dengan orangtua. Malah semakin asyik dengan teman-temannya. Ini membuat Erwin dan Tatat khawatir. Hubungan anak dengan orangtua menjadi jauh dan terasa kurang harmonis. "Kami ini rasanya salah terus saat berhubungan dengan mereka," kata Erwin.

Suatu ketika, Tatat mendapat tawaran mengikuti presentasi tentang homeschool, Maret 2002. Mereka datang bersama kedua putrinya. Erwin langsung tertarik. Sedangkan Tatat masih bingung. Sementara Nasya dan Ranya menunjukkan sikap resistensi terhadap ide itu.

Sepulang dari presentasi, Erwin dan Tatat membahas perkara itu empat mata. Mereka sepakat menjalankan sistem pendidikan ini, tapi tak ingin memaksa anak-anak. Secara perlahan, Nasya dan Ranya makin dikenalkan dengan konsep homeschool. Mereka diajak berkunjung ke keluarga homeschooler dan berkenalan dengan anaknya. Pelan-pelan Nasya dan Ranya pun jadi tertarik. "Ternyata anaknya asyik juga. Mereka tidak sekuper yang dibayangin," tutur Nasya.

Erwin-Tatat akhirnya mantap memilih jalan itu. Nasya dan Ranya setuju bersekolah di rumah. Menurut Nasya, dia terpengaruh oleh cerita teman-teman yang lebih dulu merasakan konsep homeschool. Soalnya, semua bisa dilakukan sesuai keinginan, dan lebih santai. "Kami bisa mengatur waktu belajar sendiri dan bisa mencoba banyak hal baru," kata Nasya, yang diamini oleh Ranya.

Interaksi mulai terjalin ketika proses belajar dimulai. Menurut Erwin, kala mereka mengalami kesulitan, orangtua masuk untuk membantu. "Di sinilah komunikasi mulai terjalin lagi," katanya.

Bagi Nasya dan Ranya, kesulitan pertama yang mereka hadapi adalah bahasa Inggris. Memang bahasa pengantar homeschool ini adalah bahasa asing. Nasya dan Ranya mau tak mau harus duduk berjam-jam memelototi televisi untuk menonton video pelajaran.

Panduan belajar pola homeschool itu didapat dari Morning Star Academy (MSA). Tiap modul seharga Rp 2,5 juta untuk setahun belajar. "Tetapi itu cuma tiga bulan, dan kami langsung lancar," kata Ranya.

Kesulitan bahasa juga dialami Atalia dan William Eka Putra Wijaya. Akibatnya, mereka sempat menolak. Belakangan, jebolan kelas V SD BPK Penabur Pondok Indah dan SDK Petra Kebon Jeruk itu akhirnya mengaku senang.

Alibi penolakan Atalia simpel. Dia ''sakit'' karena merasa ditarik dari pergaulan. Aturan homeschool yang dibuat orangtuanya dianggap mengekang kehidupan. Hampir saban hari dia menangis. Polah Atalia ini ditanggapi orangtuanya dengan pemahaman penuh. Sang orangtua juga terus meyakinkannya dengan penuh kesabaran.

Soal pergaulan, keempat anak itu membantah kalau disebut kuper (kurang pergaulan). "Pinter-pinternya kami saja," ujar Nasya. "Kan, bisa cari teman di tempat les, atau kami juga masih kontak sama teman-teman dulu di sekolah," katanya.

Hal yang sama dikatakan Helen. Seperti pada Joshua, putra keduanya yang kurang suka bergaul. Ia meminta sang kakak mengajak adiknya ketika berkumpul bersama teman-temannya. Selain itu, Helen juga kerap mengajak Joshua berkumpul dengan beberapa kelompok berbeda tapi punya minat sama.

Lagi pula, kini para homeschooler memiliki komunitas seperti MSA. Ide awalnya muncul lima tahun lalu. Beberapa keluarga homeschooling berkumpul, bertukar cerita. Dari situ kemudian merembet ke kurikulum.

"Enak juga kalau memiliki satu kurikulum sendiri," kata Helen, menirukan ide yang terlontar ketika itu. Akhirnya, diawali 20 keluarga dengan 50 anak, pada 2002 mereka mulai berkumpul. Mereka menyewa tempat di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, untuk menyelenggarakan pendidikan bersama. "Pengajarnya 90% para orangtua. Sisanya tutor yang khusus didatangkan, seperti guru bahasa Mandarin atau sejarah Indonesia," katanya.

Jadilah tempat itu sebagai komunitas untuk bersosialisasi dan belajar. Setiap anak bersekolah tiga hari dalam seminggu, yakni Senin-Rabu-Jumat atau Selasa-Kamis-Sabtu. Kini tercatat 150 keluarga dan sekitar 300 anak bergabung di MSA.

Saat ini, Nasya dan Ranya sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian akhir. Ada dua ujian, yakni ujian akhir dari Amerika dan ujian kesetaraan untuk mendapatkan ijazah dari Indonesia setingkat SMA. Khusus untuk yang terakhir, mereka juga bergabung dengan bimbingan belajar. "Ini jaga-jaga kalau mereka mau masuk perguruan tinggi lokal," ujar Tatat.

Peserta homeschool memang harus mengikuti ujian kesetaraan bila ingin masuk sekolah formal. Apalagi, model pendidikan ini, berdasar Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, termasuk jalur pendidikan informal. Alasannya, menurut Zaini Arony, Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah, Departemen Pendidikan Nasional, proses belajar-mengajarnya dilakukan keluarga dan lingkungan.

Mereka bisa mendapat kesetaraan di pendidikan nasional melalui paket ujian A (SD), B (SMP), dan C (SMA). "Mereka dapat mengikuti ujian. Bila lulus, berarti dia setara," kata Zaini.

Sebelum itu, mereka mesti mendaftar di lembaga pendidikan nonformal, seperti pusat kegiatan belajar masyarakat atau lembaga kursus yang menyediakan persiapan dan ujian tersebut. Saat ini terdapat lebih dari 3.000 lembaga yang tersebar di berbagai daerah. "Setelah terdaftar, mereka mengikuti proses pendidikan dalam waktu tertentu di sana, baru ujian," Zaini menambahkan. Berbekal tanda lulus ujian itu, siswa homeschool bisa mendaftar ke sekolah formal yang ada. Berani mencoba?

Arief Ardiansyah dan Alexander Wibisono

 sumber : http://www.gatra.com/2006-04-22/artikel.php?id=93881


 

Home Schooling Sebagai Pendidikan Alternatif

Belakangan ini, konsep belajar di rumah atau akrab dikenal sebagai home schooling nampaknya menjadi fenomena menarik dalam dunia pendidikan. Pasalnya, sekolah formal selain dianggap kurang memberi perhatian besar kepada diri peserta didik, juga dianggap kurang efektif dan efisien dalam rangka menjawab pemenuhan kebutuhan kecerdasan siswa didik, yakni intelektual, emosional dan spiritual.

Di samping itu, di tengah keraguan terhadap mutu pendidikan nasional sekaligus mahalnya biaya sekolah berstandar internasional, model pendidikan home schooling dirasa bisa menjadi model sekolah alternatif. Lebih dari itu, ia juga bisa menjadi solusi jitu memerdekakan pendidikan di Indonesia yang selama ini masih terbelenggu oleh system kekuasaan yang hegemonik. Misal saja, gonta-gantinya kurikulum terus saja berlangsung sembari merubah buku ajar dan menaikkan biaya sekolah.

Dalam konteks semacam ini, pakar pendidikan Jogjakarta, Prof Djohar, mengatakan bahwa kini sudah saatnya diterapkan upaya memerdekakan pendidikan yang selama ini terjebak dalam belitan birokrasi yang sebenarnya justru merugikan banyak pihak. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat berlangsungnya proses pendidikan, justru kehilangan arah dan tujuan utama yakni menciptakan manusia yang berbudaya. Standar yang diterapkan secara tidak masuk akal dan menyamaratakan semua siswa, lanjut Djohar, menjadikan sekolah sebagai institusi pendidikan formal yang bahkan tidak menyentuh sisi pendidikan dan mementingkan pembelajaran.

Hal itu membuat tujuan utama pendidikan menjadi terlupakan. Orangtua dan siswa serta para guru lebih mengedepankan nilai dibanding kualitas pribadi dan minat siswa. Untuk memperbaiki itu semua, kita harus berani keluar dari sistem yang sebenarnya banyak mengarah pada tertib administrasi saja, bukan filosofi pendidikan seperti seharusnya.

Sistem pendidikan yang seperti itu hanya akan memunculkan masalah-masalah baru yang saling berkaitan, karena tujuan pendidikan sudah bergeser. Masalah tersebut diperparah dengan adanya persepsi negatif masyarakat tentang sekolah dan pendidikan. Masyarakat terseret semakin dalam dan tidak banyak yang menyadari bahwa masalah itu berbahaya apabila tidak segera dibenahi.

Adanya jual beli gelar dan ijazah palsu, hanyalah satu dari setumpuk masalah dalam dunia pendidikan kita. Hal itu timbul karena orientasi pendidikan sudah bukan lagi untuk menjadi manusia berbudaya, tetapi manusia yang memiliki pengetahuan serta nilai akademis bagus.

Sekolah sebagai institusi pendidikan tidak memiliki kebebasan untuk mengelola sendiri sekolahnya, meskipun sudah ada Manajemen Berbasis Sekolah (School Based Management). Diperlukan adanya kebebasan dalam mengelola sekolah dan sedikit melonggarkan sekolah untuk menjadi "diri sendiri".

Dengan sekolah yang bebas, maka siswa juga akan mendapatkan kebebasan untuk belajar dengan lebih baik. Sistem pendidikan yang demikian, harus segera diubah. Bila tidak, maka yang terjadi adalah kerusakan generasi yang nantinya akan menghancurkan bangsa.

Dalam konteks semacam itu, home schooling hadir menawarkan jalan keluar mengenai masalah tersebut. Namun demikian, implementasi home schooling di Indonesia tidak semudah membalik telapak tangan karena halangan birokrasi. Terutama terkait dengan pengakuan para siswa yang merupakan output sistem tersebut. Meskipun sebetulnya hal itu bukan masalah, karena siswa lulusan home schooling bisa diukur tingkat pengetahuannya oleh badan standarisasi.

Pendidikan Rumah
Sebagai pendidikan alternatif, praktik model pendidikan rumah atau homeschooling, tentu bagi sebagian pihak cukup bagus. Sebab, dengan konsep pendidikan berbasis rumah, seorang anak bisa lebih dekat dengan keluarga. Selain itu home schooler (sebutan bagi anak yang belajar di rumah) juga bisa mengikuti ujian penyetaraan paket A untuk tingkat SD, paket B untuk SMP, dan paket C untuk SMA.

Apalagi bagi anak yang berkebutuhan khusus. Karenanya, pendidikan model begini tidak bertentangan dan sah-sah saja untuk bisa diterapkan dalam rangka menjawab pertanyaan pendidikan bagi semua (education for all). Tentu saja, tujuannya selain mereka bisa mengakses pendidikan juga agar mereka memperoleh perhatian yang intensif dari orang tua, khususnya ibu.

Menurut pengamat pendidikan Nibras OR Salim, posisi ibu bagaikan madrasah bagi anak-anaknya. Al-ummu Madrasatun. Dalam konteks semacam itu, mereka (anak-anak) semestinya mendapatkan perhatian lebih dari seorang ibu. Apalagi hampir mayoritas bila seorang ibu banyak berkutat di ranah domestik. Jadi, mereka dapat berinteraksi secara langsung dengan buah hatinya.

Kalaupun ada yang bekerja di perusahaan, lembaga pemerintahan ataupun berwirausaha, seorang ibu tetap mesti meluangkan banyak waktu untuk membimbing dan mendidik anaknya.

Seorang ayah pun posisinya sama. Mesti memberikan kasih sayang kepada anak-anak di rumah, tidak lantas bersikap keras kepada anak. Sebagai contoh, karena anaknya berkebutuhan khusus, sikap dan tindakan pun seolah diskriminatif. Cuek, easy going, kesal, inferior, marah dan aneka macam perasaan yang menggambarkan ketidakbanggaan memiliki anak berkebutuhan khusus.

Anak yang berkebutuhan khusus seperti penderita autisme, hiperaktif, retardasi mental dan sebagainya, tentu saja tidak boleh dipilah-pilah. Mereka juga berhak mendapatkan pengetahuan dan keterampilan (life skill) agar hidupnya lebih bermakna. Oleh karena itu, pada hari ini patut kiranya bila kita mulai mengencangkan ikat pinggang. Bersiap-siap melindungi anak-anak dari serangan arus gelombang informasi yang mengglobal dengan menciptakan rumah belajar yang baik dan kondusif.

Dalam konteks seperti ini, maka home schooling masih tetap membutuhkan kurikulum dan standardisasinya bisa mengacu pada kurikulum nasional yang sedang berlaku. Meski demikian, home schooler tak perlu kaku hanya menerapkan satu kurikulum. Orang tua boleh memilih kurikulum yang sesuai dengan anaknya.

Menurut Helen Ongko, Kepala Morning Star Academy (MSA), sebuah komunitas home schooler di Jakarta dan Surabaya, mengatakan bahwa kurikulum diperlukan sebagai panduan bagi anak dalam belajar. Di home schooling, tidak semua mata pelajaran dalam kurikulum harus dibebankan kepada anak-anak.

Mereka bebas mempelajari apa yang disukai, asalkan tetap mengikuti tata tertib dan disiplin yang telah disepakati bersama orang tua. Kurikulum dari negara manapun boleh. Sebab, salah satu tujuan home schooling adalah mengetahui minat anak, kemudian mengarahkannya dengan benar.

Selain kurikulum, para home schooler juga harus memikirkan pentingnya bersosialisasi. Seto Mulyadi dari Asosiasi Sekolah Rumah Pendidikan Alternatif (Asah Pena) Jawa Timur memberikan beberapa alternatif penerapan home schooling yang bukan individual.

Misalnya, home schooling majemuk yang dilaksanakan dua keluarga atau lebih untuk kegiatan tertentu. Sementara, kegiatan pokok tetap dilaksanakan orang tua masing-masing. Selain untuk bersosialisasi, para keluarga juga bisa memikirkan kurikulum bersama.

Gabungan beberapa home schooling majemuk juga bisa menyusun dan menentukan silabus, bahan ajar, kegiatan pokok, dan jadwal pembelajaran. Komitmen penyelenggaraan pembelajaran antara orang tua dan komunitasnya bias didiskusikan bersama sesuai dengan keinginan dan kesepakatan masing-masing pihak.

Hemat kata, melalui model pendidikan alternatif semacam ini, siswa selain dapat kemudahan dan pengarahan yang intensif, juga dapat dipacu untuk proaktif terhadap pembelajaran di komunitas melalui diskusi, permainan berkelompok dan berbagai ragam metode dengan harapan tercapainya tujuan proses belajar mengajar yaitu pencerdasan intelektual, emosional dan spiritual.***

Choirul Mahfud [Penulis adalah Dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya]

sumber : http://choirulmahfud.blogspot.com/2007/07/home-schooling-sebagai-pendidikan.html 


 

Rumah Kelasku, Dunia Sekolahku

 

MENDAPATKAN pendidikan yang baik untuk anak adalah keinginan setiap orangtua. Bermacam-macam jenis sekolah tumbuh bagai jamur di musim penghujan. Semua mengiklankan diri sebagai sekolah dengan beragam nilai plus agar dipilih orangtua bagi anaknya.

Ada yang memakai bahasa asing, menyediakan beragam aktivitas di luar kelas, menggunakan gedung bertingkat dengan ruangan ber-AC, hingga sekolah yang mengklaim diri menggabungkan kurikulum luar negeri dan kurikulum berbasis kompetensi dari Departemen Pendidikan Nasional.

Apa pun yang ditawarkan sekolah-sekolah itu, ternyata tidak bisa memenuhi keinginan semua orangtua. Sampai saat ini masih banyak kritik yang terlontar tidak saja dari orangtua, tetapi juga masyarakat, pemerhati pendidikan, hingga pemilik lapangan pekerjaan.

Namun, semua kritik itu seperti angin, berlalu begitu saja. Tidak ada perubahan berarti. Sebagian orangtua lalu mencari alternatif pendidikan. Salah satunya dengan bersekolah di rumah (homeschooling).

"Saya termasuk orangtua yang tidak puas dengan sistem pendidikan kita. Sudah berapa banyak sekolah yang saya datangi, hingga yang internasional, ternyata tidak memuaskan juga. Akhirnya saya putuskan untuk mengajar sendiri anak-anak saya," kata Wanti Wowor (39), ibu empat anak.

Wanti memiliki banyak alasan memutuskan mengeluarkan anak-anak dari sekolah umum. Pertama, dia merasa sistem pendidikan di sekolah hanya mengejar nilai rapor. Sedangkan keterampilan hidup dan bersosialisasi tidak diajarkan. Seorang anak dilihat berdasarkan nilai ulangan yang didapat, bukan kemampuan diri secara keseluruhan. Kondisi ini dapat mendorong anak (atau orangtua) mencontek dan membeli ijazah palsu.

"Anak pertama saya, Fini, memerlukan waktu sedikit lebih lama dibandingkan Fina, adiknya, untuk memahami sebuah persoalan. Hal ini bukan berarti Fini tidak pandai, tetapi dia memerlukan waktu atau cara lain untuk mengerti hal baru. Ini yang sering tidak dipahami guru. Guru tidak sempat memberi perhatian kepada murid satu per satu karena yang jadi tanggung jawabnya banyak sekali," ungkap Wanti menjelaskan.

Kedua, dalam hal pergaulan banyak murid yang mencari identitas dari teman, bukan pada diri sendiri. "Banyak murid yang terjebak, dia harus mempunyai barang yang sama dengan temannya agar diterima pergaulan, atau biar dibilang keren oleh teman. Ini kan tidak benar. Identitas kok ditentukan teman, bukan diri sendiri. Ini baru barang, bagaimana dengan narkoba," ujar Wanti.

Dia juga melihat orang belajar karena kebiasaan masyarakat, bukan keinginan atau kesadaran dari diri. Misalnya, sehabis SD harus dilanjutkan SMP, lalu SMA, terus kuliah. Banyak orangtua yang sudah menyadari kelebihan anaknya, namun anak tetap harus menempuh semua jenjang pendidikan formal. Sedangkan eksplorasi pada kelebihan anak agak diabaikan karena memandang pendidikan formal lebih penting. Akibatnya, anak tidak merasa senang bersekolah karena dia tidak tahu tujuan belajar di sekolah.

Joseph Tjoandi (46), ayah empat anak yang juga menyekolahkan anaknya di rumah, merasa prihatin ketika melihat anaknya setiap hari pulang membawa kertas ulangan. "Anak saya belajar terus karena akan ulangan. Belajar itu harus sesuatu yang menyenangkan, bukan beban karena besok ulangan. Anak saya tampak tertekan karena setiap hari ulangan bisa lebih dari dua, masih ditambah PR seabrek-abrek. Hidup seperti tidak menyenangkan bagi dia," kata Joseph yang semula sempat ragu karena memiliki empat anak dan si bungsu masih bayi.

Sempat juga terpikir oleh Wanti mengirim anaknya bersekolah di luar negeri. Namun, dia khawatir jika anak berusia dini dikirim ke luar negeri, jati dirinya sebagai orang Indonesia tidak tumbuh. Dia tidak akan mengenal dan bisa jadi tak mau kembali ke Indonesia.

Melihat risiko yang menurut Wanti sangat mahal harganya, dia banting setir. Tahun 1992 Wanti mengeluarkan semua anaknya dari sekolah dan memutuskan mengajar sendiri anak-anaknya di rumah.

"Bersekolah di rumah banyak dilakukan di AS (Amerika Serikat). Di sana juga sudah tersedia kurikulum untuk itu. Kebetulan saya mempunyai banyak teman di AS yang membantu mengirimkan silabus dan buku-bukunya," kata Wanti yang mengaku gemar mengajar.

Walau banyak tahu tentang bersekolah di rumah, Wanti perlu dua tahun untuk mempersiapkan diri. Dia juga harus siap menghadapi keluarga yang tentu menentangnya. "Saya sampai dikatakan gila oleh suami saya. Katanya, saya mempertaruhkan masa depan anak-anak," kenang Wanti.

Wanti sadar keputusannya mengandung konsekuensi berat. Dia harus mau capek belajar lagi, karena bersekolah di rumah berarti bukan anaknya saja yang belajar, tetapi justru orangtua yang harus banyak belajar.

Helen Ongko (44), salah seorang ibu yang mendidik anaknya dengan bersekolah di rumah, sampai harus ke Singapura dan Malaysia mengikuti seminar tentang hal ini. Dia ingin benar-benar mantap, baru mengambil keputusan. "Kebetulan waktu itu kondisi ekonomi sedang krisis sehingga kami banyak di rumah. Eh, ternyata enak ya belajar bersama di rumah," kata Helen yang mulai mulai mengajar anak di rumah tahun 2000.

Bukan hal mudah bagi Helen ketika mengajak anaknya bersekolah di rumah. Putra pertamanya, Joey Ongko (14), menolak keluar dari sekolah karena dia takut kehilangan teman-temannya. Helen harus menjawab tiga pertanyaan yang dikeluarkan Joey agar dia mau bergabung.

"Pertanyaannya adalah bagaimana Mama bisa tahan mengajar kami kalau selama ini baru belajar dua jam saja Mama sudah marah-marah. Kedua, jika Mama-Papa mengajar kami, siapa yang mencari uang? Ketiga, kalau ada apa-apa dengan Mama-Papa, siapa yang akan mengajar kami?" tutur Helen menirukan pertanyaan anaknya.

"Pertanyaan yang sulit. Saya sampai minta ditunda satu hari untuk menjawab itu. Lalu, saya katakan padanya, justru dengan bersekolah di rumah Mama mempersiapkan kamu dan adik-adik untuk mandiri. Jika suatu ketika Mama-Papa tidak ada, kalian sudah tahu apa yang harus dikerjakan, lebih mandiri. Mendengar jawaban itu, dia menerima. Setelah mengajar sendiri di rumah, ternyata saya jadi lebih sabar," ungkap Helen.

PERTAMA kali menjalani bersekolah di rumah, Helen tidak merasa kesulitan. Dia ajak ketiga anaknya membaca biografi Abraham Lincoln, lalu mereka berdiskusi dengan topik mengapa Abraham Lincoln bisa menjadi orang hebat. "Dari sana mereka lihat, untuk menjadi orang hebat dia harus menjadi orang yang jujur dan turun ke bawah membela kepentingan orang lain. Selesai satu buku, kami membaca buku yang lain," cerita Helen yang bekerja sebagai pengacara.

Untuk pelajaran matematika, semula anak-anaknya tidak tertarik. Helen mencari akal dengan bermain perang-perangan yang memang disukai anaknya. Dalam perang, untuk bisa menang jumlah tentaranya harus banyak. Kalau bisa, lebih banyak dari musuh. Untuk tahu apakah tentaranya sudah banyak atau belum, dia mesti menghitung. Dari permainan ini anak-anaknya bisa mengerti tujuan belajar matematika.

Wanti, karena telah melihat praktik bersekolah di rumah ketika berada di AS, mempunyai materi yang siap pakai. Dia datangkan kurikulum dan buku-buku dari AS yang memang ditujukan untuk belajar mandiri di rumah. Kemudian, dia ubah sebuah kamar menjadi ruang kelas.

"Saya duduk di tengah, lalu dua anak di samping kiri, dan dua anak lagi di samping kanan. Buku-buku yang menunjang pelajaran saya letakkan di rak dinding. Buku-buku itu dipakai untuk membedah sebuah masalah, lalu kami diskusikan bersama. Mereka juga bisa membuka internet untuk mencari bahan yang diperlukan," kata Wanti.

Pelajaran yang diberikan adalah matematika, bahasa Inggris, sejarah dunia, sains, dan budi pekerti. Untuk matematika dan bahasa Inggris, Wanti mengajar anak satu per satu. Sedangkan untuk pelajaran lainnya digabungkan bersama. "Saya ambil maksimum. Untuk anak bungsu, saya biarkan sampai seberapa jauh dia bisa menangkap," kata Wanti yang menetapkan pukul 08.00 sampai 12.00 merupakan jam sekolah. Di luar jam itu, anak bebas mau melakukan apa saja. Mereka bisa ikut berbagai kursus, di mana mereka bisa bertemu teman sebaya.

Namun, tetap saja sebagian besar waktu dihabiskan bersama anggota keluarga. "Walaupun belajar, kami sangat santai dan bergembira karena suasananya tanpa tekanan. Hubungan keluarga pun semakin akrab," kata Wanti.

Istri Joseph, Lilies Tjoandi, menambahkan, dengan bersekolah di rumah dia bisa mengetahui kekuatan masing-masing anak. "Setiap anak itu berbeda, kita tidak bisa menyamaratakan mereka seperti yang dilakukan sekolah umum. Dengan terjun sendiri, kita tahu bagaimana mereka sebenarnya," ungkap Lilies.

Dengan bersekolah di rumah, para orangtua juga mempunyai waktu yang fleksibel. Mereka tidak akan pindah ke topik lain jika anak-anak belum menguasai. Setelah anak-anak siap, baru mereka mengajukan diri untuk ujian. Dari pengalaman mengajar di rumah, menurut Wanti, waktu belajar anak justru lebih pendek dibandingkan sekolah umum. "Umur 16 tahun anak-anak saya sudah selesai SMA," ujarnya.

Dalam mengerjakan bahan ujian, menurut Wanti kejujuran orangtua sangat diuji. Apakah dia mau membiarkan anak mengerjakan sendiri atau dibantu. "Apakah dia masih mengejar nilai bagus, atau mengajarkan kejujuran pada anak," kata dia menegaskan.

Kertas ujian itu lalu dikirim kembali ke AS untuk dinilai, dan mendapat sertifikat sehingga murid bisa melanjutkan ke jenjang berikut. Sertifikat ini diakui di Indonesia sebagai lulusan dari luar negeri. Anak-anak Wanti, Fini dan Fina, sekarang duduk pada tingkat perguruan tinggi. Fini melanjutkan sekolah desain mode di Esmod Jakarta, sedangkan Fina memilih Universitas Indonesia program Internasional.

Kedua anak Wanti lainnya, Timothy (15) dan Lea (14), menjalani sistem belajar campuran, separuh di rumah, separuh lagi di Morning Star Academy (MSA), sekolah yang mendukung program bersekolah di rumah. Semua orangtua murid terlibat dalam kegiatan belajar-mengajar di sekolah ini. Bahkan, 90 persen guru MSA adalah orangtua murid.

BERSEKOLAH di rumah memang belum umum di Indonesia. Fini mengaku bosan setiap kali ditanya sekolah di mana. "Ketika saya jawab homeschooling, mereka bingung. Apa tuh? Saya harus menjelaskan terus. Dulu agak terbeban, tetapi sekarang sudah biasa," ujar Fini.

Dia mengaku sangat berterima kasih ibunya mengambil keputusan itu karena Fini merasa dirinya berbeda dengan teman-temannya.

"Setidaknya saya selalu mengumpulkan tugas-tugas sebelum waktu yang ditetapkan. Sedangkan teman-teman selalu SKS-sistem kebut semalam-dalam mengerjakan tugas. Mereka juga tidak berani bicara, berdiskusi di kelas. Jangankan itu, bertanya saja mereka tidak berani dan sering menyuruh saya bertanya ke dosen. Buat saya, ini aneh karena saya dididik untuk disiplin dan berani mengemukakan pendapat," kata Fini.

Sementara itu, pengamat pendidikan Dr Arief Rachman MpD mengatakan, materi bersekolah di rumah sebenarnya tidak ada bedanya dengan pendidikan di sekolah. Namun penyampaiannya yang berbeda, karena di rumah memakai pendekatan yang lebih personal. Bersekolah di rumah mengembalikan konsep dasar pendidikan, yakni pada keluarga, bukan pihak lain seperti sekolah. Anak menjadi mandiri dan hubungan dengan keluarganya harmonis.

Tetapi, bersekolah di rumah juga memerlukan tanggung jawab dan komitmen tinggi dari orangtua. Sekali terjun, mereka tidak bisa mundur karena sudah merasakan enaknya dekat dengan anak-anak. (Sarie Febriane/m Clara Wresti)

 sumber : http://www.kompas.com/kompas-cetak/0503/13/keluarga/1610987.htm

 


Ikutan Home Schooling

 

” Sekolah di rumah kedengarannya nyantai. Ternyata memang perlu alasan khusus untuk ikutan sekolah model gini. Kayak apa dan di mana aja sih sekolahnya ?

 

Pernah ada model cantik curhat. Katanya dia kadang enggak mampu mengikuti jadwal sekolah reguler yang bikin mumet. Soalnya, jadwal kariernya sebagai model juga enggak kalah padat. Bayangin aja, pemotretan atau syuting sinetron bisa menyita waktunya sampai larut malam, bahkan kadang sampai subuh. Akhirnya jadwal padat itu sering banget membuatnya nyerah bersekolah besok paginya.

“Aku sering enggak kuat bangun pagi. Akhirnya sering bolos. Susahnya, peraturan sekolah ketat banget. Jadi aku akhirnya keluar dari sekolah itu. Jujur aja, sekolahku yang sekarang lebih longgar untuk urusan absensi,” keluhnya. Akhirnya, sampai sekarang dia pun bertahan di sana dengan absensi yang bolong-bolong. Repot juga ya?

Sayang, si teman yang berprofesi sebagai model profesional tadi enggak tau soal adanya pendidikan luar sekolah yang bisa membantunya tetap bersekolah dengan benar. Coba dia kenal sama Dominique, model yang pernah jadi juara pertama Ajang Ajeng besutan MTV Indonesia. Cewek manis berkaki jenjang ini pernah ngalamin yang namanya susah ngatur jadwal.

Akhirnya, cewek ini pun sadar kalo udah enggak kuat ngatur jadwal sekolahnya. Dan home school langsung jadi pilihannya.

Sekolah di rumah? Nyantai dong? Nah, ini dia salahnya. Home school alias sekolah di rumah bukan berati nyantai. Justru dengan home school seorang siswa dituntut untuk bertanggung jawab terhadap pilihannya. Soalnya, begitu memutuskan ikutan metode ini, kita udah harus punya jadwal sendiri untuk belajar. Kapan evaluasi dan kapan ujian. Lengah sedikit, pastinya kita ketinggalan.

Banyak Jenis

“Enaknya kalo home school itu ibarat sekolah malam. Jadi selesai gue kerja, gue tinggal belajar di rumah. Dan pelajarannya udah langsung dijurusin,” jelas Dominique waktu itu kepada Tim Muda waktu masih jadi siswi home school di Yayasan Bina Mekanika.

Yayasan pendidikan yang diikuti Dominique ternyata merupakan bagian dari program pemerintah yang disebut Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Badan penyelenggaranya udah ada ratusan di Indonesia. Di Jakarta Selatan aja, ada sekitar 25 lembaga penyelenggara PKBM dengan jumlah siswa lebih kurang 100 orang. Setiap program PKBM terbagi atas Program Paket A (untuk setingkat SD), B (setingkat SMP), dan Paket C (setingkat SMA).

Tujuan program ini adalah memberikan layanan pendidikan sebagai pengganti, penambah, atau pelengkap pendidikan formal. Sasaran awalnya sebenarnya ditujukan untuk masyarakat yang kurang mampu, pengangguran, atau putus sekolah. Namun, belakangan, siswa dan siswi yang ingin mendapatkan layanan pendidikan home school bisa juga mendaftarkan ke sini.

“Jadwal memang bisa disepakati bersama. Yang penting waktu tatap mukanya minimal 5 x 3 jam per minggu. Jadi, mereka bisa memanggil tutor ke rumah. Mereka juga akan dibekali modul yang harus dipelajari dan dilatih sendiri,” ujar Chris Leniaty R, SH Branch Manager PKBM.

Makanya, begitu Dominique memilih program IPS sebagai minatnya, dia langsung mendapat modul PKn, Bahasa Inggris, Sosiologi, tata negara, Sastra Indonesia, dan Ekonomi Akuntansi. Selain belajar di rumah, kadang dia juga datang untuk belajar di gedung Bina Mekanika di kawasan Kebayoran Lama.

“Enaknya lagi tuh langsung berupa latihan-latihan. Jadi memacu kita untuk cepat selesai. Sesekali, aku juga datang ke sana untuk ujian bersama atau kalo ada evaluasi,” tuturnya. Selain menawarkan program IPS, PKBM juga menawarkan program IPA dan Bahasa.

Nantinya, para siswa PKBM juga harus mengikuti ujian nasional seperti sekolah reguler. Bedanya, ijazahnya langsung dikeluarkan dari Direktorat Pendidikan Masyarakat Ditjen PLSP (Pendidikan Luar Sekolah Pusat).

“Ujiannya pasti terpisah. Tapi ijazahnya resmi dan sangat susah untuk penyelewengan karena dikeluarkan dari pusat. Makanya, home school ini sebenernya lebih sulit untuk lulus,” jelas Ign Doni R, SH, SE AK.

Peran Ortu

Selain PKBM, ada salah satu lembaga penyelenggara home school yang lain, namanya Morning Star Academy. Lembaga yang mengacu pada kurikulum Franklin Classical School dari Amerika Serikat ini lebih mengedepankan peran orangtua di dalam pelaksanaan home school.

“Tapi kami bukan murni home school. Sistem belajar kami tiga hari di sekolah, sisanya belajar di rumah. Nah, begitu di rumah, orangtua berperan sebagai pengontrol dan penerapan pendidikan sekolah di rumah,” ujar Ibu Lilies Tjoandi dari Morning Star.

Lembaga pendidikan Kristen ini berdiri sejak tahun 2002 dengan tujuan selain memberikan edukasi yang bertaraf internasional, juga membentuk karakter siswanya.

Siswa lembaga pendidikan ini rata-rata punya kesibukan yang luar biasa. Selain sekolah, pasti ada minimal tiga kegiatan luar sekolah. Karena enggak yakin mengimbangi jadwal sekolah yang padat, mereka pun memilih lembaga ini.

“Di sini ada atlet tenis profesional, pebasket yang punya segudang kegiatan. Tapi di pelajaran, mereka semua jempolan,” ujar Ibu Lilies.

Herman “Noel” Sinaga contohnya. Cowok berusia 17 tahun ini adalah atlet basket yang pernah memperkuat tim Aspac Junior. Selain masih sering latihan basket, dia juga latihan vokal di Institut Musik Indonesia. Tapi basketlah yang membuat dia jadi bersungguh-sungguh menjalankan home school ini.

Pasalnya dia pengin banget masuk ke klub NBA New York Knicks. So, untuk bisa masuk ke sana, dia harus tembus ke college atau universitas di New York juga nantinya. Dengan home school berkurikulum Amerika Serikat inilah, dia rela melahap semua mata pelajaran seperti Matematika, Bahasa Inggris, Sastra, Humanity, Science, Logic, dan Mandarin. Oh iya, semuanya dengan pengantar bahasa Inggris tentunya!

“Awalnya juga aneh. Kok ada sekolah di rumah segala. Tapi setelah dijalanin, kayaknya emang lebih bagus. Karena selain gue bisa belajar, latihan basket pun jalan terus,” ujar cowok tinggi besar ini mantap.

Untungnya, si Noel ini juga enggak lantas tergoda untuk bermalas-malasan. Soalnya, ibunya udah mewanti-wanti untuk mengikuti home school ini dengan serius.
“Begitu saatnya belajar di rumah, nyokap gue tuh udah ngasih kepercayaan ke gue. Sekalian ngontrol pelajaran gue dan bilang, percuma, katanya, kalo mau jadi atlet di Amerika kalo di sini udah enggak mau bertanggung jawab. Makanya, gue langsung enggak enaklah diomongin kayak begitu,” beber cowok berkulit gelap ini tegas.

Nah, jadi tau kan sekarang! Dengan home school tuh emang bukan lantas malah jadi nyantai. Sekolah model gini cuma alat untuk membantu kita mendapatkan pendidikan dengan nyaman di balik kegiatan kita yang superbanyak.

Toh, intinya tanggung jawab ada di tangan kita sendiri. Bisa jadi pilihan, kan?

Oleh : Yorgi Gusman Tim Muda

Sumber : Kompas

http://rumahsekolahku.wordpress.com/

 


 

 

Sekolah Rumah, Siapa Mau Coba ?

 

Beginilah suasana ketika Deviana sedang mengajar Nindya Putri Catur Permata Sari, putri bungsunya. Istri Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Seto Mulyadi ini mendidik sendiri anak-anaknya di rumah, tidak menyekolahkan mereka di sekolah umum. Materi yang ia ajarkan kali ini adalah teori evolusi yang ditemukan oleh Charles Darwin. Suasana belajar-mengajar di rumah dibuat sangat santai, diiringi candaan dan kadang-kadang sambil menjalankan aktivitas sehari-hari. Walaupun pelajaran dibuat santai, Dea, panggilan akrab Nindya, menyimak pelajaran yang diberikan ibunya dengan antusias.

Seto Mulyadi atau Kak Seto sudah lama mempraktekkan home-schooling atau sekolah rumah bagi anak-anak. Konsep sekolah rumah memang unik. Menurut Kak Seto, keluarganya menerapkan sekolah rumah bagi anak-anaknya sejak tiga tahun lalu. Awalnya, Minuk, anak pertama, mengalami tekanan di sekolah karena dihukum gurunya ketika masih duduk di bangku sekolah menengah pertama favorit di Jakarta.

“Lalu dia menyampaikan pada ibunya. Mula-mula dipaksa ibunya. Tetapi tetap tidak mau, dan mengatakan lebih baik saya ke sekolah tapi tidak belajar, atau saya di rumah tapi saya belajar? Akhirnya, ya sudah, dengan mengingat hak anak, mengedepankan yang terbaik bagi anak, akhirnya saya beri kesempatan Minuk tetap berada di rumah. Tetapi dia menjalankan aktivitas belajarnya,” Kak Seto menjelaskan ihwal mula mempraktekkan sekolah rumah.

Menurut Kak Seto, berkat konsep sekolah rumah dengan kurikulum yang disusun bersama, motivasi belajar muncul dari dalam diri putrinya. Belajar sambil bermain, membuat anak merasa nyaman, meskipun belajar sepanjang hari.

“Anak-anak jadi senang belajar dengan motivasi internal, motivasi dari anak itu sendiri. Sehingga kegiatan home schooling ini, jika ditanya kapan belajarnya, dari bagun tidur sampai tidur lagi. Di mana belajarnya? Di mana saja! Bisa di kamar tidur, ruang tengah, kamar tamu, di halaman, atau juga di luar. Entah pergi ke sawah, ke panti asuhan, penitipan bayi-bayi telantar, sampai mungkin juga belajar di mal. Tapi yang penting, anak-anak dilibatkan untuk menyusun kurikulumnya, mencari sumber belajar,” Kak Seto menambahkan.

Bagi Dhea, belajar di rumah sangat menyenangkan. Ia mengaku ingin terus belajar di rumah sampai menyelesaikan pendidikan setara sekolah menengah umum.

“Kayaknya, seterusnya sampai SMP, SMA, sampai kapan aja gitu. Aku pingin home schooling. Soalnya waktu itu ngeliat Kak Minuk, terus jadi gimana gitu. Sekolah formal, aku takut! Kayaknya, Kak Minuk sampai stres waktu itu. Waktu kelas SMA, kayaknya, sempet stres. Terus aku nggak mau, mau terus home scholing aja,” tutur Dhea.

Bagi kebanyakan orang, menempuh pendidikan formal masih merupakan pilihan utama. Bahkan, lembaga pendidikan formal yang tergolong favorit masih jadi incaran kebanyakan siswa dan orang tua.

Vanny, misalnya. Siswa SMU 70 Jakarta Selatan ini tetap memilih belajar di sekolah formal. Bagi dia, masuk salah satu SMU favorit di Jakarta merupakan cita-citanya sejak dulu. Dengan masuk SMU favorit, Vanny berharap peluang untuk belajar di perguruan tinggi ternama akan lebih terbuka.

“Di rumah tuh gak punya temen, ya jadi gak bergaul aja. Trus biasanya kualitasnya kan beda kalau sekolah di rumah. Kalau di sekolah kan ada kurikulumnya, gitu. Kalo di rumah kan gak jelas, gitu. Gak mau karena kebanyakan sekolahnya di sekolah, bukan di rumah,” kata Vanny.

Begitu juga Danista, rekan Vanny. Dia justru menikmati belajar di sekolah formal dan mengaku bosan tinggal di rumah. Dia sama sekali tidak ingin belajar di rumah. “Ngapain di rumah juga. Di rumah bosenlah,” jelasnya.

Randi, pelajar SMU yang lain, juga demikian. Baginya, belajar di rumah bukan hal yang menyenangkan. Kata Randi, ada hal yang tidak didapat di rumahnya, yaitu pertemanan. Baginya, sosialisasi dengan teman-teman di sekolah merupakan kebutuhan yang penting.

“Belajar di rumah ya gak enak aja. Kalo di sekolah formal gini, selain belajar, kayak ada pergaulannya, gitu….” kata Randi.

Pemerintah sendiri mengakui keberadaan sekolah rumah sebagai salah satu jalur pendidikan yang sah. Menurut Direktur Pendidikan Kesetaraan Departemen Pendidikan Nasional, Ella Yuleawati, Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional membuka banyak jalur pendidikan yang bisa ditempuh, termasuk sekolah rumah.

TetapiElla juga mengingatkan, untuk menjalankan konsep sekolah rumah, orang tua harus memiliki komitmen yang kuat. Banyak orang tua yang tidak memiliki komitmen yang kuat dalam mempraktekkan sekolah rumah, sehingga tidak membimbing anaknya secara maksimal. Kesibukan orang tua juga merupakan salah satu hambatan dalam mendidik anak.

“Saya katakan, itu pendidikan informal sekolah rumah, kalau masyarakat memilih itu, apakah betul? Itu tidak mudah loh. Sekarang ini mungkin orang sangat terkesima begini begitu. Berpikirnya mudah, kayak jadi trend seter, gitu. Kalau sekolah rumah, tinggal hati-hati. Saya sendiri belum tentu, memang saya belum tentu. Tapi, saya memang tidak bisa. Kan anak saya dua-duanya di ITB dengan bantuan sekolah formal,” kata Ella.

Mendidik sendiri anak di rumah bukan perkara gampang. Menurut pakar pendidikan Universitas Negeri Jakarta, Arief Rahman Hakim, orang tua yang ingin menjalankan konsep pendidikan rumah harus memenuhi tiga syarat. Pertama, syarat akademis, yaitu memiliki latar belakang pendidikan yang cukup. Kedua, syarat psikologis, yaitu memiliki jiwa pendidik. Dan terakhir, harus memiliki syarat pedadogis, yaitu keahlian menularkan pengetahuan kepada orang lain. Selain itu, menurut Kepala Lab School di Rawamangun ini, praktisi sekolah rumah juga harus memiliki program pelajaran dan sistem evaluasi yang jelas.

“Saya tidak mengatakan setiap orang itu bisa atau tidak, tapi kalau mau melaksanakan home schooling, ketiga syarat itu harus dipenuhi,” katanya.

Kriteria seperti yang disampaikan Arief Rahman Hakim memang dimiliki Deviana, istri Kak Seto. Menurut Deviana, dia memiliki program yang jelas dan mendidik anaknya berdasarkan kurikulum nasional. Dia juga mengaku menerapkan sistem evaluasi untuk mengukur capaian yang ditempuh kedua putrinya.

“Saya pakai cara saya sendiri. Sudah mengerti apa belum, misalnya, sambil bermain juga kadang mereka buat soal. Oh, mereka sudah mengerti soal ini. Kalau sudah bisa buat soal, berarti sudah mengerti. Jadi, mereka kadang membuat soal. Menyerapnya lebih dari yang diajarkan. Tidak formal pakai angka. Yang penting standarnya sampai, standar kurikulum nasional,” kata istri Seto Mulyadi ini.

Bagi Kak Seto, mempraktekkan sekolah rumah memang tidak gampang. Dia mengingatkan kepada semua orang tua yang akan menjalankan praktek sekolah rumah agar memahami benar makna pendidikan. Walaupun kini banyak kalangan kelas terdidik di Jakarta yang menerapkan sekolah rumah, dia mengingatkan jangan sampai sekolah rumah sekadar menjadi gagah-gagahan.

“Pertama harus memahami makna dari pendidikan. Bukan sekadar menjejalkan beragam informasi atau pelajaran kepada kepala yang seolah-olah kosong. Tapi makna pendidikan adalah justru mengeluarkan atau memberdayakan potensi-potensi unggul yangg dimiliki oleh setiap anak yangg saling berbeda. Kedua, punya komitmen, bahwa ortu yang jadi koordinator dan fasilitator dari kegiatan sekolah rumah. Penaggung jawab adalah tetap ortu. Berarti mempelajari isi kurikulum. Kemudian juga mencoba untuk menjabarkan secara kreatif sesuai dengan kondisi anak-anak yang saling berbeda. Kemudian harus mampu bekerja sama baik dengan anak maupun dengan pihak-pihak lain, termasuk jaringan sekolah rumah,” Kak Seto memberi kiat bagi orang tua yang ingin membuat sekolah rumah.

Sekolah rumah atau home-schooling tampaknya sudah menjadi alternatif di tengah-tengah buruknya sistem pendidikan formal. Beberapa selebritas, seperti Neno Warisman, juga mempraktekkan sekolah rumah untuk anak-anaknya. Dewi Hughes yang belum mempunyai anak tapi peduli pada dunia pendidikan pun tertarik. Mereka bahkan membentuk Asa Pena, asosiasi sekolah rumah, sebagai wadah bertukar informasi sesama praktisi sekolah rumah. (Liza Desylanhi/E2)

Sumber : http://www.vhrmedia.net



 

“Home Schooling” Model Pendidikan Alternatif

 

Ditengah keraguan terhadap mutu pendidikan nasional, sekaligus mahalnya biaya sekolah berstandar internasional, kini banyak orangtua yang beralih menyekolahkan anak-anaknya di rumah melalui program yang dinamai homeschooling.

Program yang sebenarnya belajar jarak jauh ini materinya disediakan oleh sebuah institusi pendidikan pengelola yang juga akan bertugas menguji para peserta di akhir táhun ajaran yang telah ditentukan untuk kénaikan tingkat atau mendapatkan sertifikat.

Sebenarnya home schooling di Indonesia telah ada sejak dulu, hanya saja dulu namanya berbeda. Belajar jarak jauh semacam e-learning, atau pola pendidikan SMU atau Universitas Terbuka, bahkan Pendidikan Kejar (Kelompok Belajar) Paket A & B itu dapat digolongkan sebagai home schooling. Pada prinsipnya, home schooling ini merupakan pendidikan alternatif dengan menekankan pola kurikulum yang lebih fleksibel dalam pengajarannya.

Hal ini karena awal pembentukan home schooling itu sendiri di Amerika Serikat (AS) merupakan wujud pengawasan preventif orangtua terhadap anak-anaknya karena lembaga sekolah di sana dinilai sudah tidak bisa lagi menjadi lembaga pembelajaran yang sehat. Misalnya — berdasarkan kasus yang sering terjadi– sekolah tidak jarang menjadi ajang perkelahian dan peredaran obat bius. Oleh karena itu para orangtua kemudian berkumpul untuk menyediakan pendidikan bagi anak-anak mereka. Semula memang dikelola oleh orangtua sendiri, namun selanjutnya berkembang dengan mendatangkan pengajar ke rumah, layaknya model pendidikan anak-anak keluarga bangsawan zaman dulu.

Untuk menerapkan kurikuurn home schooling ini di Indonesia, seharusnya tidak perlu meniru pola pengajaran yang diterapkan di AS karena belum tentu cocok. Dengan difasilitasi pêmerintah, bila nantinya home schooling telah makin diminati di negeri ini, ada baiknya para orangtua membentuk komunitas mandiri yang khusus mengelola pendidikan alternatif ini dengan memasukkan muatan-muatan khusus, misalnya pendidikan untuk mengenal tanah air dan budayanya, pendidikan kesenian, kecintaan membaca, dan lain-lain.

Alasan lain orangtua menerapkan home schooling adalah keinginan untuk memberi kebebasan kepada anak-anak mereka tentang hal-hal yang ingin dipelajari lebih banyak sesuai bakat dan minat masing-masing.

“ Biarkan anak-anak bereksplorasi dengan berbagai macam hal. Kelasnya bisa di dapur, halaman belakang, sawah dekat rumah, atau di mana saja, ” begitu ujar salah seorang orangtua yang telah mantap memutuskan untuk memilih home schooling.

Namun home schooling ini tentunya mengandung konsekuensi, yaitu orangtua harus benar-benar mendampingi anak dalam belajar dan bereksplorasi untuk menyerap ilmu. (CHK)

Sumber : Kompas



Menimbang Sekolah Rumahan

 

” Apakah akan datang suatu ketika guru manusia adalah alam, kemanusiaan adalah bukunya, dan kehidupan adalah sekolahnya? “

 

Pertanyaan Kahlil Gibran ini bukanlah hal yang utopis atau tidak pernah kita temui dalam kehidupan nyata. Penyair besar kelahiran Lebanon itu tidak sekadar meramal atau bertanya sekenanya saja.

Di balik pertanyaan itu terkandung makna yang sangat mendalam dan menjadi renungan bagi setiap generasi, bahwa proses pendidikan yang dicapai sesungguhnya bukanlah diukur dari seberapa tinggi jenjang pendidikan formal yang ditempuh oleh seseorang atau seberapa banyak ilmu pengetahuan yang dikuasai.

Namun, sejatinya pendidikan yang sebenarnya adalah bagaimana menjalani dan memaknai kehidupan ini sebagai manusia pembelajar sepanjang hayat karena pada hakikatnya kita tidak pernah purna untuk menamatkan “sekolah” kehidupan ini.

Munculnya fenomena sekolah rumahan (home schooling) empat tahun terakhir seakan menemukan konteksnya apabila dihubungkan dengan pertanyaan Kahlil Gibran di atas. Karena dengan mengajak anak-anak belajar di luar bingkai sekolah formal, mereka akan tergiring untuk menyadari bahwa proses belajar itu tidak pernah ada batasnya; bahwa sekolah formal itu hanya salah satu di antara banyak cara dalam memperoleh life skill sebagai bekal untuk menapaki masa depan mereka.

Secara historis, ada sederet nama pahlawan nasional dan tokoh pendidikan bangsa ini yang merupakan produk dari sekolah rumahan, seperti Haji Agus Salim, Ki Hadjar Dewantara, serta Buya Hamka. Sepanjang hidup mereka didedikasikan untuk kemajuan bangsa ini karena mereka tidak mengenal kata “lulus” dalam “sekolah kehidupan” ini.

Ada beberapa lembaga seperti Morning Star Academy dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Bina Mekanika, tokoh pendidikan anak, Kak Seto Mulyadi; serta pendongeng Kak Wees yang telah menerapkan sistem belajar sekolah rumahan ini.

Kecenderungan untuk menerapkan sistem belajar home schooling ini diakibatkan oleh adanya rasa ketidakpercayaan kepada sekolah formal karena kurikulumnya terus berubah dan memberatkan anak, menganggap anak sebagai obyek bukan subyek, memasung kreativitas dan kecerdasan anak, baik dari segi emosi, moral, maupun spiritual (Tempo, 26/2/2006). Sebenarnya, secara operasional, Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional telah mengakui sistem sekolah rumahan, tetapi pemerintah masih belum melakukan standardisasi terhadap sistem belajar ini.

Tanpa menafikan peran sekolah formal dalam usaha memperbaiki kualitas pendidikan bangsa Indonesia, melalui tulisan ini, penulis ingin berbagi cerita mengenai sisi-sisi positif dari sekolah rumahan sebagai upaya alternatif bagi proses perbaikan kualitas pendidikan bangsa ini.

Selama lebih kurang dua tahun, saya mencoba menerapkan sistem belajar home schooling kepada keponakan-keponakan saya di rumah, mereka diajak untuk belajar bersama di luar jam sekolah. Boleh dikatakan bahwa apa yang saya kembangkan tidak sepenuhnya menggunakan sistem belajar sekolah rumahan karena mereka tidak sepenuhnya lepas dari sistem pendidikan formal.

Berdasarkan pengalaman selama menemani mereka belajar bersama di rumah, ada beberapa hal yang bisa dipetik.

Pertama, belajar di rumah lebih menyenangkan; jumlah mata pelajaran yang dibebankan kepada peserta didik di sekolah formal saat ini sangatlah memberatkan, ketika mereka merasa terbebani untuk mempelajari suatu bidang studi, bukan rasa ingin tahu yang muncul dalam benak mereka, melainkan setumpuk beban pengetahuan yang harus ia jejalkan ke dalam otaknya.

Dengan beban seperti itu, mereka akan enggan dan ogah- ogahan untuk membaca dan mengembangkan pengetahuannya sendiri, apalagi misalnya di sekolah mereka lebih banyak menerima pengetahuan dengan proses satu arah (spoon feeding).

Naifnya, ketika peserta didik tidak mampu menyerap pelajaran di ruang kelas, mereka diajak untuk belajar lagi di luar kelas, misalnya dengan mengikuti les, pelajaran tambahan, ataupun bimbingan belajar, padahal bidang studi yang mereka pelajari sama dengan yang mereka pelajari di ruang kelas.

Sistem belajar seperti ini tidak hanya menambah beban bagi mereka, tetapi juga akan membuat mereka merasa jemu dan bosan karena ada proses pengulangan (repetisi) bahan pelajaran.

Namun, dengan sistem belajar home schooling, mereka akan belajar lebih menyenangkan karena menerima pelajaran dengan rasa ingin tahu dan tidak ada beban untuk mempelajarinya. Hal ini penting untuk proses berpikir mereka ke depan karena akan terus mengembangkan pengetahuannya tanpa harus dibatasi oleh ruang (jenjang pendidikan) dan waktu (belajar sepanjang hayat).

Dengan demikian, mereka akan mempunyai kebebasan berpikir dan berkreasi sesuai dengan bakat dan minat yang mereka kenali dan tekuni.

Kedua, belajar di rumah akan mendukung terhadap terciptanya lingkungan yang lebih komunikatif antar anggota keluarga. Di tengah kecenderungan merenggangnya rasa kekerabatan dan kekeluargaan, terutama di daerah urban, menyediakan ruang belajar terbuka di rumah akan kembali menumbuhkan dan mempererat tali persaudaraan dan kekeluargaan.

Selain itu, mereka juga akan belajar lebih kooperatif, tak hanya mementingkan keberadaan dan prestasinya sendiri, tetapi juga dengan sendirinya akan membantu kesulitan yang dihadapi oleh saudara-saudaranya.

Hal ini berbeda dengan target pencapaian yang selama ini dikembangkan di sekolah formal yang hanya mementingkan nilai, sehingga tak jarang para siswa akan berusaha mempertaruhkan apa pun untuk memperoleh nilai yang tinggi dengan cara curang, menyontek misalnya.

Cara belajar seperti ini justru akan menghambat cara berpikir positif dan cara menghadapi masa depan kehidupannya; mereka akan cenderung mencari jalan pintas dalam menyelesaikan persoalan hidup.

Ketiga, belajar di rumah akan mendukung terhadap proses kematangan jiwa anak. Hampir seluruh perkembangan kejiwaan anak bisa ter-cover karena lebih gampang memantau dan mengomunikasikan dengan pihak orangtua. Jadi, hambatan belajar mereka, baik secara fisik maupun psikis, relatif lebih cepat diketahui dan dipecahkan. Proses kematangan jiwa ini sangatlah membantu terhadap rasa kepercayaan diri untuk selalu belajar dan berjuang demi kemajuan diri dan bangsanya.
Keempat, mengajak anak-anak untuk tidak hanya berkutat dengan buku-buku, misalnya mereka diajak belajar di alam terbuka seperti di daerah persawahan, sungai, ataupun hutan, dalam artian apa yang mereka baca dan pelajari coba disinggungkan dan didiskusikan dengan keadaan sekitar.

Melalui cara belajar seperti itu, lambat laun mereka akan mempunyai kesadaran bahwa pengetahuan yang diperoleh akan betul-betul diketahui manfaat dan fungsinya dalam kehidupan mereka; tidak sebatas pengetahuan kognitif yang menumpuk di dalam otak mereka. Dengan demikian, pada akhirnya mereka akan mempunyai kepekaan terhadap persoalan-persoalan di sekeliling mereka.

Oleh: Mohammad Hasan Basri Guru SMA I Annuqayah Guluk-guluk Sumenep; Tengah Merintis Taman Belajar “Insan Fitri” di Madura

Sumber : Kompas

 
 

Rumah Kelasku, Dunia Sekolahku

 

MENDAPATKAN pendidikan yang baik untuk anak adalah keinginan setiap orangtua. Bermacam-macam jenis sekolah tumbuh bagai jamur di musim penghujan. Semua mengiklankan diri sebagai sekolah dengan beragam nilai plus agar dipilih orangtua bagi anaknya.

Ada yang memakai bahasa asing, menyediakan beragam aktivitas di luar kelas, menggunakan gedung bertingkat dengan ruangan ber-AC, hingga sekolah yang mengklaim diri menggabungkan kurikulum luar negeri dan kurikulum berbasis kompetensi dari Departemen Pendidikan Nasional.

Apa pun yang ditawarkan sekolah-sekolah itu, ternyata tidak bisa memenuhi keinginan semua orangtua. Sampai saat ini masih banyak kritik yang terlontar tidak saja dari orangtua, tetapi juga masyarakat, pemerhati pendidikan, hingga pemilik lapangan pekerjaan.

Namun, semua kritik itu seperti angin, berlalu begitu saja. Tidak ada perubahan berarti. Sebagian orangtua lalu mencari alternatif pendidikan. Salah satunya dengan bersekolah di rumah (homeschooling).

“Saya termasuk orangtua yang tidak puas dengan sistem pendidikan kita. Sudah berapa banyak sekolah yang saya datangi, hingga yang internasional, ternyata tidak memuaskan juga. Akhirnya saya putuskan untuk mengajar sendiri anak-anak saya,” kata Wanti Wowor (39), ibu empat anak.

Wanti memiliki banyak alasan memutuskan mengeluarkan anak-anak dari sekolah umum.

Pertama, dia merasa sistem pendidikan di sekolah hanya mengejar nilai rapor. Sedangkan keterampilan hidup dan bersosialisasi tidak diajarkan. Seorang anak dilihat berdasarkan nilai ulangan yang didapat, bukan kemampuan diri secara keseluruhan. Kondisi ini dapat mendorong anak (atau orangtua) mencontek dan membeli ijazah palsu.

“Anak pertama saya, Fini, memerlukan waktu sedikit lebih lama dibandingkan Fina, adiknya, untuk memahami sebuah persoalan. Hal ini bukan berarti Fini tidak pandai, tetapi dia memerlukan waktu atau cara lain untuk mengerti hal baru. Ini yang sering tidak dipahami guru. Guru tidak sempat memberi perhatian kepada murid satu per satu karena yang jadi tanggung jawabnya banyak sekali,” ungkap Wanti menjelaskan.

Kedua, dalam hal pergaulan banyak murid yang mencari identitas dari teman, bukan pada diri sendiri. “Banyak murid yang terjebak, dia harus mempunyai barang yang sama dengan temannya agar diterima pergaulan, atau biar dibilang keren oleh teman. Ini kan tidak benar. Identitas kok ditentukan teman, bukan diri sendiri. Ini baru barang, bagaimana dengan narkoba,” ujar Wanti.

Dia juga melihat orang belajar karena kebiasaan masyarakat, bukan keinginan atau kesadaran dari diri. Misalnya, sehabis SD harus dilanjutkan SMP, lalu SMA, terus kuliah. Banyak orangtua yang sudah menyadari kelebihan anaknya, namun anak tetap harus menempuh semua jenjang pendidikan formal. Sedangkan eksplorasi pada kelebihan anak agak diabaikan karena memandang pendidikan formal lebih penting. Akibatnya, anak tidak merasa senang bersekolah karena dia tidak tahu tujuan belajar di sekolah.

Joseph Tjoandi (46), ayah empat anak yang juga menyekolahkan anaknya di rumah, merasa prihatin ketika melihat anaknya setiap hari pulang membawa kertas ulangan. “Anak saya belajar terus karena akan ulangan. Belajar itu harus sesuatu yang menyenangkan, bukan beban karena besok ulangan. Anak saya tampak tertekan karena setiap hari ulangan bisa lebih dari dua, masih ditambah PR seabrek-abrek. Hidup seperti tidak menyenangkan bagi dia,” kata Joseph yang semula sempat ragu karena memiliki empat anak dan si bungsu masih bayi.

Sempat juga terpikir oleh Wanti mengirim anaknya bersekolah di luar negeri. Namun, dia khawatir jika anak berusia dini dikirim ke luar negeri, jati dirinya sebagai orang Indonesia tidak tumbuh. Dia tidak akan mengenal dan bisa jadi tak mau kembali ke Indonesia.

Melihat risiko yang menurut Wanti sangat mahal harganya, dia banting setir. Tahun 1992 Wanti mengeluarkan semua anaknya dari sekolah dan memutuskan mengajar sendiri anak-anaknya di rumah.

“Bersekolah di rumah banyak dilakukan di AS (Amerika Serikat). Di sana juga sudah tersedia kurikulum untuk itu. Kebetulan saya mempunyai banyak teman di AS yang membantu mengirimkan silabus dan buku-bukunya,” kata Wanti yang mengaku gemar mengajar.

Walau banyak tahu tentang bersekolah di rumah, Wanti perlu dua tahun untuk mempersiapkan diri. Dia juga harus siap menghadapi keluarga yang tentu menentangnya. “Saya sampai dikatakan gila oleh suami saya. Katanya, saya mempertaruhkan masa depan anak-anak,” kenang Wanti.

Wanti sadar keputusannya mengandung konsekuensi berat. Dia harus mau capek belajar lagi, karena bersekolah di rumah berarti bukan anaknya saja yang belajar, tetapi justru orangtua yang harus banyak belajar.

Helen Ongko (44), salah seorang ibu yang mendidik anaknya dengan bersekolah di rumah, sampai harus ke Singapura dan Malaysia mengikuti seminar tentang hal ini. Dia ingin benar-benar mantap, baru mengambil keputusan. “Kebetulan waktu itu kondisi ekonomi sedang krisis sehingga kami banyak di rumah. Eh, ternyata enak ya belajar bersama di rumah,” kata Helen yang mulai mulai mengajar anak di rumah tahun 2000.

Bukan hal mudah bagi Helen ketika mengajak anaknya bersekolah di rumah. Putra pertamanya, Joey Ongko (14), menolak keluar dari sekolah karena dia takut kehilangan teman-temannya. Helen harus menjawab tiga pertanyaan yang dikeluarkan Joey agar dia mau bergabung.

“Pertanyaannya adalah bagaimana Mama bisa tahan mengajar kami kalau selama ini baru belajar dua jam saja Mama sudah marah-marah. Kedua, jika Mama-Papa mengajar kami, siapa yang mencari uang? Ketiga, kalau ada apa-apa dengan Mama-Papa, siapa yang akan mengajar kami?” tutur Helen menirukan pertanyaan anaknya.
“Pertanyaan yang sulit. Saya sampai minta ditunda satu hari untuk menjawab itu. Lalu, saya katakan padanya, justru dengan bersekolah di rumah Mama mempersiapkan kamu dan adik-adik untuk mandiri. Jika suatu ketika Mama-Papa tidak ada, kalian sudah tahu apa yang harus dikerjakan, lebih mandiri. Mendengar jawaban itu, dia menerima. Setelah mengajar sendiri di rumah, ternyata saya jadi lebih sabar,” ungkap Helen.

PERTAMA kali menjalani bersekolah di rumah, Helen tidak merasa kesulitan. Dia ajak ketiga anaknya membaca biografi Abraham Lincoln, lalu mereka berdiskusi dengan topik mengapa Abraham Lincoln bisa menjadi orang hebat.

“Dari sana mereka lihat, untuk menjadi orang hebat dia harus menjadi orang yang jujur dan turun ke bawah membela kepentingan orang lain. Selesai satu buku, kami membaca buku yang lain,” cerita Helen yang bekerja sebagai pengacara.

Untuk pelajaran matematika, semula anak-anaknya tidak tertarik. Helen mencari akal dengan bermain perang-perangan yang memang disukai anaknya. Dalam perang, untuk bisa menang jumlah tentaranya harus banyak. Kalau bisa, lebih banyak dari musuh. Untuk tahu apakah tentaranya sudah banyak atau belum, dia mesti menghitung. Dari permainan ini anak-anaknya bisa mengerti tujuan belajar matematika.

Wanti, karena telah melihat praktik bersekolah di rumah ketika berada di AS, mempunyai materi yang siap pakai. Dia datangkan kurikulum dan buku-buku dari AS yang memang ditujukan untuk belajar mandiri di rumah. Kemudian, dia ubah sebuah kamar menjadi ruang kelas.

“Saya duduk di tengah, lalu dua anak di samping kiri, dan dua anak lagi di samping kanan. Buku-buku yang menunjang pelajaran saya letakkan di rak dinding. Buku-buku itu dipakai untuk membedah sebuah masalah, lalu kami diskusikan bersama. Mereka juga bisa membuka internet untuk mencari bahan yang diperlukan,” kata Wanti.
Pelajaran yang diberikan adalah matematika, bahasa Inggris, sejarah dunia, sains, dan budi pekerti. Untuk matematika dan bahasa Inggris, Wanti mengajar anak satu per satu. Sedangkan untuk pelajaran lainnya digabungkan bersama. “Saya ambil maksimum. Untuk anak bungsu, saya biarkan sampai seberapa jauh dia bisa menangkap,” kata Wanti yang menetapkan pukul 08.00 sampai 12.00 merupakan jam sekolah. Di luar jam itu, anak bebas mau melakukan apa saja. Mereka bisa ikut berbagai kursus, di mana mereka bisa bertemu teman sebaya.

Namun, tetap saja sebagian besar waktu dihabiskan bersama anggota keluarga. “Walaupun belajar, kami sangat santai dan bergembira karena suasananya tanpa tekanan. Hubungan keluarga pun semakin akrab,” kata Wanti.

Istri Joseph, Lilies Tjoandi, menambahkan, dengan bersekolah di rumah dia bisa mengetahui kekuatan masing-masing anak. “Setiap anak itu berbeda, kita tidak bisa menyamaratakan mereka seperti yang dilakukan sekolah umum. Dengan terjun sendiri, kita tahu bagaimana mereka sebenarnya,” ungkap Lilies

Dengan bersekolah di rumah, para orangtua juga mempunyai waktu yang fleksibel. Mereka tidak akan pindah ke topik lain jika anak-anak belum menguasai. Setelah anak-anak siap, baru mereka mengajukan diri untuk ujian. Dari pengalaman mengajar di rumah, menurut Wanti, waktu belajar anak justru lebih pendek dibandingkan sekolah umum. “Umur 16 tahun anak-anak saya sudah selesai SMA,” ujarnya.

Dalam mengerjakan bahan ujian, menurut Wanti kejujuran orangtua sangat diuji. Apakah dia mau membiarkan anak mengerjakan sendiri atau dibantu. “Apakah dia masih mengejar nilai bagus, atau mengajarkan kejujuran pada anak,” kata dia menegaskan.

Kertas ujian itu lalu dikirim kembali ke AS untuk dinilai, dan mendapat sertifikat sehingga murid bisa melanjutkan ke jenjang berikut. Sertifikat ini diakui di Indonesia sebagai lulusan dari luar negeri. Anak-anak Wanti, Fini dan Fina, sekarang duduk pada tingkat perguruan tinggi. Fini melanjutkan sekolah desain mode di Esmod Jakarta, sedangkan Fina memilih Universitas Indonesia program Internasional.

Kedua anak Wanti lainnya, Timothy (15) dan Lea (14), menjalani sistem belajar campuran, separuh di rumah, separuh lagi di Morning Star Academy (MSA), sekolah yang mendukung program bersekolah di rumah. Semua orangtua murid terlibat dalam kegiatan belajar-mengajar di sekolah ini. Bahkan, 90 persen guru MSA adalah orangtua murid.

BERSEKOLAH di rumah memang belum umum di Indonesia. Fini mengaku bosan setiap kali ditanya sekolah di mana. “Ketika saya jawab homeschooling, mereka bingung. Apa tuh? Saya harus menjelaskan terus. Dulu agak terbeban, tetapi sekarang sudah biasa,” ujar Fini.

Dia mengaku sangat berterima kasih ibunya mengambil keputusan itu karena Fini merasa dirinya berbeda dengan teman-temannya.

“Setidaknya saya selalu mengumpulkan tugas-tugas sebelum waktu yang ditetapkan. Sedangkan teman-teman selalu SKS-sistem kebut semalam-dalam mengerjakan tugas. Mereka juga tidak berani bicara, berdiskusi di kelas. Jangankan itu, bertanya saja mereka tidak berani dan sering menyuruh saya bertanya ke dosen. Buat saya, ini aneh karena saya dididik untuk disiplin dan berani mengemukakan pendapat,” kata Fini.

Sementara itu, pengamat pendidikan Dr Arief Rachman MpD mengatakan, materi bersekolah di rumah sebenarnya tidak ada bedanya dengan pendidikan di sekolah. Namun penyampaiannya yang berbeda, karena di rumah memakai pendekatan yang lebih personal. Bersekolah di rumah mengembalikan konsep dasar pendidikan, yakni pada keluarga, bukan pihak lain seperti sekolah. Anak menjadi mandiri dan hubungan dengan keluarganya harmonis.

Tetapi, bersekolah di rumah juga memerlukan tanggung jawab dan komitmen tinggi dari orangtua. Sekali terjun, mereka tidak bisa mundur karena sudah merasakan enaknya dekat dengan anak-anak. (Sarie Febriane/m Clara Wresti)

Sumber : Kompas - 13 Maret 2005


 

 

+/-
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.
+/- Comments
Add New Search
Sopar Maruli  - Rumahku sekolahku     |222.124.135.xxx |2009-01-09 10:11:38
Saya sangat terkesan sekali dan berkeinginan untuk menjadikan rumahku sebagai
sekolah untuk orang yang tidak mampu disekitarku yang perlu untuk diberikan
pendidikan kepada mereka. Tapi rumahku kecil tipe 45, apakah saya bisa walaupun
tidak memiliki modal ?

Salam dan sukses selalu.

smskalit

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

If you liked this article, you can consider to buy me a food for our kidsmfBeer Joomla! Plugin

 
< Prev   Next >

ONLINE STATUS

Yovie Setiawan

dr. Nathasa


Our Photo Gallery


Australia 2005
hits: 41
 

Post Wedding
hits: 26
 

Vina 5th birthday
hits: 10
 

Family in WYD Part 1
hits: 12

Guestbook

keijo
And the bible will quard us to love and message in God and show to us what wil
Continue
Ben
hi...can u send me the chords for kumau cinta Yesus selamanya? pls?? thanks...go
Continue
julius
salam kenal koh yovie... 
weww...very cool personal website... kerenn.
Continue
Pius Leza
Saya sudah lihat foto tuan Yovie dan Nyonya Natasha serta anak-anak. Ganteng, ca
Continue
budi kristanto
Ko, lagu2 nya bagus . boleh ya download lagunya.
Continue

Sign guestbook
View guestbook