| Kami bertemu BAPA PAUS !! Part 1 |
|
Written by Yovie - Nathasa at Saturday, 09 August 2008 (1475 hits) Sejak kami menayangkan foto bersama dengan Paus Benediktus di website kami www.yovisasa.com, banyak yang menanyakan apakah itu foto asli atau bukan. Sebelum kami menjawab rasa penasaran pembaca, baiklah kami menceritakan pengalaman kami mengikuti World Youth Day (WYD)
Jujur kami katakan pada awalnya kami setengah hati untuk mengikuti World Youth Day. Satu hal yang kami risaukan adalah anak-anak kami. Dalam bayangan kami, mengikuti sebuah World Youth Day pasti akan penuh sesak dengan banyak orang. Belum lagi kekhawatiran kami akan dinginnya Australia. Sebagaimana diketahui pada bulan Juni Juli di Sydney adalah musim winter dan suhu bisa mencapai 5-15’ C. Anak kami yang kedua, Vina punya gejala asma. Beberapa kali waktu yang lalu Vina ditreatment untuk asmanya sampai kami pun membeli alat sendiri untuk perawatan asmanya. Kami juga berencana akan membawa alat ini saat mengikuti WYD. Sempat juga terpikir bahwa saya akan berangkat duluan dan istri saya menyusul bersama anak-anak kami setelah WYD. Namun rupanya Tuhan punya rencana lain. Kami akhirnya sepakat akan pergi sama-sama dan kami percaya bahwa Tuhan yang akan menjaga kami sekeluarga di Australia.
Get ready toSydney !! Persiapan pun dilakukan dari bulan Desember 2007, kami bersama teman-teman yang lain mengadakan berbagai event penggalian dana. Mulai dari parkir natal, pembagian amplop dan 2 x bazaar. Beberapa peserta pun mengalami kekhawatiran mulai dari lamanya menunggu proses visa, masalah dana dan masalah lainnya. Sumbangan 5000 AUD dari Komunitas Pusat DOJ di Australia terasa oase di tengah padang gurun. Sumbangan ini diberikan khusus bagi anggota DOJ Bali yang akan mengikuti WYD. Kami juga melakukan persiapan pribadi untuk kami sendiri dan anak-anak kami. Kami juga membuatkan ID Card (yang berisikan nama dan telpon kami berdua) dan membeli sebuah peluit untuk dikalungkan di leher anak kami saat di Australia nanti. “Yonathan dan Vina kalau hilang atau terlepas dari tangan papa atau mama, jangan lupa bunyikan peluit ya biar papa mama bisa dengar,” demikian kami mengingatkan Yonathan dan Vina. Tak lupa sleeping bag juga kami siapkan seandainya Yoyo dan Vina harus tidur di taman saat kami jalan-jalan mengikuti WYD. 3 koper besar sudah kami siapkan untuk berziarah mengikuti WYD. Bagi kami pribadi Australia merupakan tempat yang sungguh berkesan. Bagi kami kota Sydney merupakan kota persinggahan rohani. Kami katakan demikian karena empat kali kedatangan saya ke Sydney seluruhnya untuk acara yang berkaitan dengan acara rohani. Tiga kali kedatangan kami yang lalu mengikuti acara di komunitas DOJ di Canberra dan sekitarnya. Bagi Yonathan ini kedatangannya yang kedua ke Australia. Bagi Vina sebenarnya bisa dibilang ini juga yang kedua kalinya ke Australia. Hanya yang pertama Vina belum bisa melihat, karena masih di dalam kandungan istri saya umur 3 bulan!
Dinginnya kota Sydney !! “Wow..dingin juga ya,” kata kami saat tiba di airport Sydney tgl 13 Juli 2008. Komunitas DOJ di Sydney pun menjemput kami untuk tinggal di rumah mereka. Kami sekeluarga tinggal di Blacktown. Cukup jauh juga dari kota. Kalau naik train ke kota, bisa 1 jam 15 menit dari rumah kami tinggal. Di hari pertama ini kami mengikuti Gathering DOJ Sydney Area, dinner barbeque dan mengikuti misa minggu di Baulkham Hills. Keesokan harinya kami ikut mengantar teman-teman untuk melihat akomodasi mereka. Karena kami mengajak anak-anak, kami memang mendaftar paket WYD tanpa akomodasi. Sedangkan teman-teman kami yang lain ditempatkan di sebuah sekolah di Marist College di daerah Eastwood. Satu kelas bisa diisi dengan 15 orang. Cukup nyaman juga. Setidaknya lebih nyaman daripada peserta yang ditempatkan di hall Telstra Olympic yang menampung 1000 peserta per hall! Selesai cek akomodasi, kami semua jalan-jalan ke kota. Asyiknya semua peserta WYD gratis naik bis dan train selama WYD di seluruh kota Sydney. Hari kedua lebih heboh lagi !! Tgl 15 Juli merupakan misa pembukaan WYD yang seluruhnya dipusatkan di Barangaroo. Setidaknya ada 300.000 menurut official news WYD, yang berkumpul saat itu. Seumur hidup kami, baru kali ini kami melihat begitu banyaknya orang berkumpul dalam satu event. Sejauh mata memandang hanya terlihat para peserta WYD. Sungguh dalam hati kami bertambah bangga menjadi bagian dalam Gereja Katolik. Di tengah – tengah misa Yonathan dan Vina mulai mengantuk dan tidur. Kami bisa bayangkan rasa lelah mereka. Kami saja cukup lelah juga berjalan dan menunggu 3 jam sebelum dimulainya misa pembukaan pk 5 sore. Akhirnya kami membuka sleeping bag. Yoyo Vina pun tidur terlelap di tengah hiruk pikuknya orang yang berkumpul. Usai misa rupanya jalan udah di block yang dibuat khusus untuk para peserta. Di tengah perjalanan Vina pun kecapekan. Saya pun menggendong Vina. Dengan tas berisi kamera, handycam dan peralatan lainnya yang mencapai 5 kg ditambah 20 kg berat Vina cukup membuat saya lelah. Namun saya bersyukur karena inilah berkat ziarah yang sebenarnya. Setiap kali saya menggendong Vina, saya selalu merasa bersyukur bisa ikut merasakan betapa lelahnya Yesus saat memanggul salib. Untung saja Yonathan yang beratnya 30 kg, walaupun ia capek tapi nggak pernah memaksa kami untuk menggendongnya. Hari ketiga di pagi hari diisi dengan pengajaran katekesis oleh uskup-uskup. Ada 300 uskup yang tersebar di berbagai tempat untuk membawakan katekesis. Setiap grup sudah ditentukan tempat katekesisnya. Jauhnya jarak rumah ke tempat katekesis kami, sekitar 1,5 jam, membuat kami tidak bisa mengikutinya. Anak-anak kami rata-rata baru bangun pk.8. Mungkin karena kecapekan di hari sebelumnya sehingga kami tidak membangunkan mereka terlalu pagi. Belum lagi persiapan memberi makan, susu dan lain-lainnya membuat kami tidak terlalu memaksakan diri untuk mengikuti seluruh acara. Hari ketiga kami isi dengan melihat beberapa Youth Festival Events di Darling Harbour. Tak lupa kami juga sempat berkunjung ke bioskop 3D Imax dan Sea World di Darling Harbour.
Pindah rumah Hari keempat kami pindah rumah. Sebulan sebelum WYD kami memang iseng-iseng kontak teman kami di Sydney. Karena kami tahu Blacktown rumah pertama yang akan kami tempati jauh dari kota, kami mencari juga alternatif lain untuk tinggal. Thanks GOD!! Saya mendapat email dari salah satu teman saya yang sudah 14 tahun kami nggak pernah ketemu semenjak lulus SMA. Teman kami namanya Hans, anaknya Ibu Caroline pembina Sekolah Minggu St. Yoseph. Ia pun menawarkan untuk tinggal di apartemennya di daerah Killara. 30 menit dari kota. Akhirnya tibalah saat pindahan. Setelah teman kami, Glenn di Blacktown mengantarkan kami ke stasiun kereta, kami pun harus bergerilya membawa 3 koper besar untuk naik kereta dan pindah kereta sebelum tiba di Killara. Perjalanan ditempuh hampir 1,5 jam. Hans pun menjemput kami di stasiun Killara. Sesampainya di apartemennya jam sudah menunjukkan pk. 2 siang dimana pk 3 Paus akan secara official datang ke Sydney dan menyambut pilrims, sebutan bagi peserta WYD, dengan menaiki kapal cruise. Rupanya mendekati jam 3 saat kami siap-siap mau berangkat Yoyo dan Vina tertidur di kamar. Mungkin karena kelelahan pindahan tadi pagi. Akhirnya kami berdua hanya bisa menonton kedatangan Paus dari televisi! Namun walaupun hanya melihat dari TV kami bisa merasakan atsmosphere penyambutan Paus. Di sore hari di hari keempat ini, kami jalan-jalan ke China Town dan disana ketemuan ama beberapa grup Bali. Kami pun menyempatkan diri untuk mencicipi makan di salah satu food court di sana. "Wah banyaknya, 1 piring cukup untuk berdua nih," selalu begitu kesan kami setiap melihat banyaknya makanan dalam 1 piring yang kami pesan. (bersambung.....)
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."If you liked this article, you can consider to buy me a food for our kids |
||||||||